19 April 2013

Narsih Sang Perawat

Reaksi: 
Aku, Wawan, adalah seorang dokter yang beberapa tahun yang lalu pernah bekerja di puskesmas kecil di suatu kecamatan di Jawa beberapa kilometer dari kota S. Ketika bekerja menjadi dokter puskesmas itu lah aku terlibat perselingkuhan dengan perawat anak buahku sendiri di puskesmas itu. Waktu itu aku masih muda (sekitar 27 tahun), kata orang wajahku cakep dan macho, sedang perawatku itu hitam manis terpaut sekitar 5 tahun lebih muda dariku. Aku sendiri saat itu sudah berkeluarga beranak satu berumur 2 tahun, demikian pula perawatku yang bernama Narsih sudah bersuami tetapi belum punya momongan.

Begini ceritanya...

Pada saat pertama kali datang melihat puskesmas tempat aku akan berdinas selama 5 tahun yang terletak di suatu kecamatan yang lumayan jauh dari kota kabupaten, aku datang sendirian. Di sana aku ditemui oleh seorang perawat wanita yang sudah bekerja di sana selama tiga tahun semenjak puskesmas itu selesai dibangun.

“Narsih”, begitu dia memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya. Dalam hatiku, “Aduh, manis betul perawat ini”.

Sambil bertanya tentang berbagai hal, yang menyangkut kunjungan pasien, tentang pelaksanaan program kesehatan yang selama ini dikerjakan olehnya (selama ini puskesmas dipimpin olehnya yang merupakan satu-satunya perawat dengan dibantu oleh 2 orang petugas lain), tentang keadaan masyarakat sekitar puskesmas, dll, aku tak puas-puasnya memandangi wajahnya yang manis itu. Sebaliknya, si manis ini juga sering dengan berani menatapku balik sambil senyum agak menantang. Pikirku, “Gawat juga anak ini”, kelihatannya dia sangat tertarik secara seksual padaku.

Dia cerita kalau sudah menikah selama 2 tahun dan belum berhasil hamil juga. Aku bilang dengan sedikit menggoda: “Wah, jangan-jangan suamimu kurang hebat caranya. Kapan-kapan saya ajari ya”.

“Ya dok, tapi jangan suami saya saja yang diajari, saya juga dong”, ujarnya.

Beberapa minggu kemudian, aku benar-benar sudah berdinas di puskesmas ini. Aku tinggal di rumah dinas di samping kantor yang masih satu kompleks dengan puskesmas, demikian pula Narsih tinggal di rumah dinas pada kompleks yang sama tetapi di sisi lainnya. Istriku dari pagi sampai menjelang sore pergi ke kota S untuk bekerja. Jadi sesiangan rumahku nyaris kosong.

Pada hari pertama, aku mengajak Narsih berboncengan memakai motor ke desa-desa tempat wilayah kerjaku untuk orientasi dan berkenalan dengan beberapa kepala desa yang kebetulan dilewati.

Perjalanan melalui jalan yang sebagian besar masih berupa tanah yang dikeraskan, dan di beberapa tempat berupa batu “makadam” yang bergelombang. Tangan Narsih yang kubonceng di belakangku berkali-kali memegang paha atau pinggangku karena takut terjatuh. Aku senang bukan main sambil berdebar. Berkali-kali pula buah dadanya yang tidak terlalu besar tetapi kenyal itu menyenggol di punggungku. Rupanya dia juga tak sungkan-sungkan untuk menempelkannya. Melihat sikapnya yang seperti itu, aku meramal bahwa Narsih suatu saat pasti bisa kuajak bergelut bugil di tempat tidur.

Tubuh Narsih cukupan, tingginya sekitar 160 cm, badannya langsing, kakinya mempunyai bulu-bulu yang cukup merangsang lelaki, walau pun kulitnya sedikit gelap. Wajahnya manis mirip Tony Braxton, si penyanyi negro itu. Buah dada tidak besar, yah kira-kira setangkupan telapak tanganku. Itu pun kukira-kira saja, karena di waktu dinas tubuhnya di balut seragam dinas Pemda. Rambutnya sebahu. Yang jelas, wajahnya manis, seksi dan senyumnya menggoda.

Dalam perjalanan berboncengan Narsih menceritakan perjalanan hidupnya sejak lulus sekolah dan langsung ditempatkan di puskesmas ini. Di sini mula-mula dia tinggal bersama adik ceweknya yang sekolahnya dibiayainya. Dia sempat berpacaran dengan seorang pemuda yang tinggal di depan rumah dinasnya, tetapi akhirnya justru tetangga lainnya yang memintanya untuk dijadikan menantu. Akhirnya permintaan belakangan itulah yang dipenuhinya sehingga Narsih dinikahi oleh seorang pemuda putra seorang tokoh masyarakat desa (tetangga dekat tadi) dan cukup berada, tanpa melalui proses pacaran.

Narsih rupanya selama itu menjadi “bunga” di desa tempat puskesmas berada. Dia menjadi inceran banyak pemuda desa situ, juga orangtua-orangtua yang menginginkannya menjadi menantunya.

Tanpa sengaja, ketika Narsih sedang asyik bercerita, motor saya melawati lubang yang cukup membuat motor bergoyang keras, dan bibir Narsih sempat menempel di leherku bagian belakang (aku sedikit geli, tetapi tentu senang dong) dan krah bajuku terkena warna merah lipstiknya. Dia segera membersihkan krah tersebut, kawatir dicurigai istriku macam-macam. Tapi aku tenang saja, bahkan aku bilang: “Nggak apa-apa koq, ditempeli sekali lagi juga nggak apa-apa, apalagi kalau nggak cuma di krah baju”. “Ih, pak Wawan macam-macam …, nanti dimarahi ibu lho.”, katanya agak genit.

Beberapa minggu kemudian nggak ada kejadian istimewa, sampai suatu hari Narsih sakit diare dan nggak bisa masuk kantor. Pembantunya menyusul ke puskesmas, dititipi pesan agar kalau saya sudah tidak terlalu sibuk bisa menengok dirinya, mungkin bisa memberi advis mengenai pengobatannya.

Setelah pasien sepi dan tak ada pekerjaan kantor yang berarti, aku menjenguknya ke rumahnya, dan diminta masuk kamar tidurnya. Waktu itu suaminya nggak ada di rumah, karena sehari-hari suaminya bekerja di suatu pabrik di kecamatan sebelah. Aku melihat dia berbaring di ranjang, walau pun sedang sakit, tetapi kulihat wajah dan tubuhnya justru makin merangsang dibalut baju tidur yang cukup seksi.

Kawatir aku nggak bisa menahan diri di kamarnya, aku segera minta padanya, kalau masih bisa jalan (aku lihat sakitnya biasa saja), untuk pergi ke rumahku setelah jam kantor minta diantar pembantu. Toh, jaraknya cukup dekat. Sementara itu dia kuberi obat seperlunya.

Sepulang kantor, Narsih datang ke rumah diantar pembantu, kemudian pembantunya disuruhnya pulang duluan, sehingga aku dan dia tinggal sendirian di rumahku. Pembantuku (suami-istri) kalau siang seusai bekerja pulang ke rumahnya dan petangnya kembali lagi, sebab mereka adalah penduduk desa setempat.

Narsih kusuruh masuk ke kamar periksa, kemudian kuminta berbaring di tempat tidur periksa. Aku memasang stetoskop, dan kuminta dia untuk membuka sebagian kancing atasnya (Narsih memakai pakaian rok dan kemeja blues yang dikeluarkan). Aku mula-mula serius memeriksa dadanya dengan stetoskop, tetapi begitu melihat sembulan buah dadanya yang nggak besar di balik BHnya, aku tiba-tiba berdebar dan bergetar. Aku nggak pernah bergetar bila memeriksa pasien wanita lain, tetapi menghadapi Narsih koq lain.

Dengan spontan tanpa meminta ijin dari empunya, buahdadanya kuraba halus dari luar dan kuelus-elus. Narsih tak membuat gerakan penolakan, matanya justru terpejam sekan menikmati. Seluruh kancing bluesnya langsung kucopoti, sehingga BH Narsih itu terlihat bebas menantang.

Bibirnya kukulum dengan cepat, sambil tanganku masih mengelus-elus buahdadanya dari luar BH nya yang belum kulepas. Seperti yang sudah kuduga, kuluman bibirku disambutnya dengan ciumannya yang lembut tapi hebat. Lidahku kujulurkan dalam-dalam ke langit-langit mulutnya, sebaliknya lidahnya segera membalas dengan memilin lidahku. Aku melihat Narsih terengah-engah menahan emosinya, sambil mengerang: “Ssssh, pak Wawan, pak, ah … argghhh … ssshhh”.

Tanpa menunggu lama, sambil Narsih masih tetap terbaring dan mulutnya masih kubungkam dengan bibirku, cup BH nya kuangkat ke atas tanpa kucopot kancingnya terlebih dulu. Susunya langsung tersembul keluar dengan indahnya. Benar dugaanku susunya tak besar, tetapi bagus dan kencang dengan puting susu kemerahan yang tak terlalu menonjol. Itulah susu Narsih yang sudah kubayangkan beberapa lama dan ingin kukulum. Itulah sepasang buah dada Narsih yang masih kenyal belum sempat mengeluarkan ASI karena belum sempat hamil.

Tangan kananku segera meraba-raba pentilnya bergantian kanan dan kiri dengan gerakan memutar yang halus. Narsih makin menggigil dan tambah mengerang: “Paaak, Narsih malu paak … ssshhh aargghhh … ssshh …”. Aku terus menjilati bibir dan wajahnya sambil berdiri, dan tanganku memijat-mijat susunya yang ranum. Tangan Narsih merangkul leherku, matanya berkejap-kejap, sambil mulutnya terus mendesah di tengah-tengah kuluman lidahku.

Setelah puas menjilati wajah dan bibirnya, mulutku beralih ke leher dan belakang telinganya. Dia makin menggelinjang sambil setengah menegakkan kepalanya. Aku masih terus berdiri, stetoskopku sudah kulempar jauh-jauh. Segera kemudian, mulutku sudah berada di puting susu kirinya. Aku jilat sepuasnya. Dada Narsih menggeliat dan sekali-kali membusung, sehingga susunya makin terlihat indah dan menggairahkan. Desisan Narsih makin menghebat, “Aaarggghhh, paaaak, aku nggak tahan paaak …”. Tanganku pelan-pelan menelusuri pahanya yang mulus walau pun berkulit agak sedikit gelap. Tapi warna kulit seperti ini justru sangat merangsang diriku. kontol di balik celanaku sudah menegang sejak tadi ketika aku mulai pertama kali melihat BH nya. Aku mulai menelusuri pahanya pelan-pelan ke atas menuju selangkangannya di balik rok yang masih dipakainya, sambil aku masih terus menggelomohi kedua puting susunya. Kulirik wajah manis perawatku ini. Ah, betapa makin merangsangnya tampakan wajahnya, yang sambil sedikit merem-melek matanya menahan nafsu birahi, mulutnya mendesis mengerang terus menerus walau pun tidak dengan suara yang keras, “Aaarghh, paakk, aku … aku nggak tahan lagi paak.”

Tetapi, begitu tanganku sampai di pinggir celana dalamnya, tiba-tiba dia tersadar dan langsung bilang, “Ah, pak, jangan sekarang pak ..”. Aku agak kaget, “Mengapa Sih? Aku sudah nggak tahan Sih, kepingin menelanjangi kamu.” Narsih menjawab: “Kapan-kapan pak untuk yang itu.”.

Aku tak berani nekat meneruskan, tapi wajah, bibir, dan susunya masih terus kujilati bergantian.

Aku berciuman seperti itu sambil pakaianku masih lengkap dan masih tetap berdiri, sedang Narsih sudah setengah bugil sambil tetap tergolek di ruang periksa, kurang lebih setengah jam. Akhirnya, karena aku kawatir kalau istriku datang dari kantor, maka perbuatan kami yang sudah kerasukan nafsu birahi yang menggelegak itu kuhentikan, dan Narsih kusuruh berpakaian kembali dan kuminta segera pulang. Aku sempat berciuman sekali lagi. Mesra, seperti sepasang kekasih yang baru dilanda asmara.

Beberapa hari kemudian, setelah kantor tutup, Narsih yang sudah sembuh dari diarenya, kuminta datang ke rumah. Dia datang masih memakai seragam dinas. Demikian pula aku.

Kusuruh dia duduk di sampingku di sofa ruang tamu. Ruang tamuku tetap kubiarkan terbuka pintunya, toh aku tetap bisa mengontrol situasi luar rumah dari kaca besar berkorden dari dalam. Orang luar tak bisa melihat ke dalam, sebab pencahayaan dari luar jauh lebih terang.

Melihat situasi luar yang cukup aman, dan saat itu di rumah dinasku hanya ada aku dan Narsih, maka kuberanikan mencoba melanjutkan apa yang sudah kumulai beberapa hari sebelumnya.

Narsih yang berada di samping kananku langsung kupeluk mesra, kuelus rambutnya dan kucium bibirnya dengan rasa sayang. Namun tanpa kuduga, dengan ganas (Narsih sepintas kuperkirakan adalah wanita yang hiperseks, dan di kemudian hari dia memang mengakuinya kalau dia nggak pernah puas ketika berhubungan seksual dengan suaminya, walau pun menurut ukurannya suaminya mempunyai kemampuan seksual yang sangat hebat), dia menyambut ciumanku dengan jilatan-jilatan lidahnya yang memilin-milin lidahku. Tangannya dengan berani meraba selangkanganku yang tertutup celana dinas dan meraba kontolku yang sudah menegang ketika mulai berciuman tadi. Kontolku dikocoknya dari luar dengan trampil dan membuatku keenakan (jujur saja, istriku tidak bisa seperti itu).

Secara cepat dan trengginas, karena nafsu yang sudah berkobar-kobar, aku pun langsung membuka kancing seragam atasnya, dan dengan lahap kukeluarkan seluruh buah dadanya yang ranum dari cup BH tanpa membuka kancing yang terletak di belakangnya. Susunya langsung kuremas dengan lembut, pentilnya yang imut kupilin-pilin sampai menegang, dan aku terus menciumi bibir dan kadang menciumi wajah dan belakang telinganya. Narsih meregang, dan kali ini dia memanggilku tidak lagi pak atau dok, tetapi sudah berubah menjadi `papa?, “Ehmmpph, sshh … paaaaaah, aku sayang kamu paaah, Narsih sayang papaaah … aaarghh ….”.

Aku pun berganti menjawab sekenanya dan seberaninya, “Aku juga sayang Narsih, bener aku sayang kamu, hari ini aku ingin memasukkan kontolku ke tubuhmu, sayang, boleh?”

Narsih langsung menjawab, “Boleh yaaaang, boleh … arrghhh … sshhshh … cepatan ya yaaaang … aaaargrhhh ….”.

Mendengar jawaban itu, tanpa ragu, aku segera memasukkan jari kedua tanganku ke selangkangannya yang masih tertutup seragam dinas, dan dengan bernafsu kucari celana dalamnya, dan begitu ketemu, tanpa ba-bi-bu lagi langsung kupelorot dan kusimpan di saku celanaku. Demikian pula Narsih, dengan terengah-engah, langsung dia membuka resleting celanaku dengan sebelumnya melepaskan ikat pinggangku yang kemudian dia lempar jauh-jauh, dan tangannya dengan cepat menyergap kontolku yang berukuran panjang 14 cm dengan diameter yang cukup besar. Aku ikut memelorotkan celanaku walau pun nggak sampai kulepas sama sekali. Tangannya dengan cekatan mengelus kontolku, mengocoknya, sembari tubuhnya menggelinjang karena jariku sudah mengelus tempik vaginanya yang basah. Sebagian jariku pelan-pelan kumasukkan ke dalam lubang tempiknya, dan kugeser-geser melingkari lubang sempit itu. Jempolku mencari kelentitnya, begitu ketemu kuelus dengan permukaan dalam jempol.

“Ah, paaah, aku nggak tahan paaah … aggghhh, ….. paaaah …..eeennaaak paaah …”, dia mengerang setengah berteriak, tetapi mulutnya segera kubungkam dengan mulutku, kukulum agar suaranya tidak terdengar oleh orang-orang yang mungkin ada di luar, kemudian kujilati bibir dan seluruh permukaan wajahnya sampai basah terkena ludahku.

Sambil setengah bergumul, mataku selalu waspada melihat keadaan luar rumah melalui kaca berkorden untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada orang yang mau masuk ke rumah. Karena situasi yang tidak terlalu aman itu, aku tidak berani melakukan adegan birahi kami ini dengan berbugil total..

Tanpa menunggu lama lagi, karena darah birahi yang sudah sampai ke ubun-ubun, tubuh Narsih kutarik ke depan tubuhku, sambil dia tetap duduk menghadap ke depan membelakangiku, dan aku bersandar setengah duduk di sofa, dengan perlahan tapi pasti, rok bawahannya kusingkap dan kuangkat, pantatnya kupegang, selangkangannya yang sudah tak bercelana dalam kurenggangkan lebar-lebar, pahaku kurapatkan dengan kontol yang mengacung ke atas, kemudian tangan kiriku memegang kontol dan kubimbing masukkan ke vagina tempik (memek)-nya. Narsih ikut membantu memegang kontolku dengan tangan kanannya, dan perlahan-lahan pantatnya diturunkan ke bawah. Vaginanya terasa sempit juga (mungkin karena belum pernah melahirkan bayi), tetapi berkat bantuan lendir vaginanya yang sudah banyak, tanpa kesulitan yang cukup berarti kontolku akhirnya berhasil masuk juga ke sebagian vagina depannya. Narsih sambil menghadap ke depan terus mengerang, pantatnya mulai bergoyang-goyang, dinaik turunkan, agar kontolku bisa lebih masuk ke dalam.


“Aduuuh paaaaah, enaaak paaaah …. Ssshhh … arggh , aaduuuh paaah …”, erangnya. Aku juga mulai mendesis merasakan enaknya tempik perawatku yang sangat manis dan hot ini, sambil benakku berseliweran membayangkan keberanianku menyetubuhi istri orang. Ah, persetan, salahnya punya istri manis disia-siakan, sehingga masih mencari memek atasannya. Betul-betul vagina yang nikmat, nggak salah aku ditempatkan di puskesmas ini, aku bisa menikmati sepuasnya vagina Narsih yang sedap. Kepunyaan istriku sendiri tidak senikmat ini.

“Narsiiih, kamu memang enaak, Narsih …” begitu desisku.

Sambil aku juga ikut menggerakkan pantatku naik turun seirama dengan naik turunnya pantat Narsih, aku mengocok kelentit Narsih yang ada di depan dengan tangan kananku. Tangan kiriku terus meraba habis susunya yang terasa kenyal di depan. Narsih makin menggelinjang seperti cacing kepanasan, karena kocokan jariku pada kelentitnya yang makin menonjol. Pantatnya makin dia goyangkan selain naik turun juga ke kanan kiri. Rasanya bukan main enak, tak terkirakan. Beginilah rupanya rasa tempik Narsihku, Narsihku yang bisa menggantikan tugas istriku di siang hari, Narsihku yang mempunyai gerakan tubuh yang hebat dan nikmat.

“Siiiih, kamu sayang papa beneran nggak, aku eeennnaaaak Siiih ….!”

“Aaaaduuuh paaaah, Narsih sayang paapaaaah, eennaaak juga aku paaaah, koq bisa enaaak gini ya paaaah? Aaaargghhhh ….. ssshh … arrrgggghhhhhhhhhhhhhhhh …. Paaaaah …”

Aku makin cepatkan kocokanku naik turun, demikian pula Narsih, dia makin menggeliatkan tubuhnya ke sana kemari. Sayang, aku nggak bisa melihat tubuh indahnya sambil berbugil, karena situasinya yang tak memungkinkan.

Tiba-tiba Narsih, setengah berteriak bergetar-getar tubuhnya, “Aaarghhh … paaah, aku nggak tahaaan paaaah, aku mau orgasme paaaaah, paaaaah …”. Aku sendiri hampir nggak tahan juga merasakan denyutan tempiknya yang asyik. Sekali lagi, betul-betul tempik yang enak dan nikmat

“Nggak apa-apa Siiih, kalau mau orgasme, nggak usah ditahan Siiih, papa juga mau keluar, aarghhh …”.

Gerakan kontolku makin kupercepat walau pun tidak terlalu bebas, karena posisiku yang di bawah, sambil tanganku mengocok susu dan bibir Narsih kucari dan kumasukkan jempolku ke mulutnya dan segera diempotnya seperti bayi sambil terus mendesah. Tak lama kemudian, Narsih mengejang, “Arrrggghhhhh paaaaaaaaah …. Arrrghhhhhh ……”, badannya bergetar, rupanya Narsih telah orgasme hebat. Kontolku terasa dijepit berdenyut-denyut. Karena proses orgasme tubuhnya menggeliat seksi ke belakang sehingga tampak makin menggairahkan.

Pemandangan itu, walau cukup kulihat dari belakang, membuat aku juga sudah merasa nggak tahan lagi, geli hebat mulai terasa di ujung kontol yang masih berada di tempik Narsih. Goyanganku kupercepat lagi, Narsih kupeluk erat-erat, dan … “Aaaarhggggghhh … aku juga keluar Siiiih … eenaaaak Siiih …..”.

Pantat Narsih kutarik keras-keras ke bawah agar seluruh kontolku terbenam di tempiknya, dan kusemprotkan keras-keras air maniku ke dalam vaginanya, sambil berharap agar ada spermatozoa yang bisa menyerbu ovumnya sehingga menghasilkan pembuahan, karena mendadak hari ini aku merasa mencintai Narsih, tidak sekedar mencari kepuasan seksual saja.

“Ooooh paaaah, aku cinta kamu paaaah …., Narsih sayang kamu paaah. Aku kepingin anak dari kamu paaah …” kata Narsih sambil terus memutar-mutarkan dan menekan pantatnya menjadikan kontolku seperti diperas-peras isinya, dan beberapa kali menyemprotkan mani sampai ludas. “Aku juga sayang kamu, Narsih … kapan-kapan aku ingin mengajakmu main seks sambil betulan telanjang bulat, mau ya Siih …?”

Narsih langsung menjawab dengan manja: “Tentu Narsih mau sekali paah, minggu depan ya paah, kita cari tempat enak untuk bikin anak yang nikmat ya paah?”

source

18 April 2013

Nikmatnya Digilir Suster Rumah Sakit

Reaksi: 
Suatu siang di jalan Dharma Wangsa ke arah kampus Airlangga sedang terjadi keributan, nggak jelas siapa lawan siapa. Saat itu aku melintas dengan BMW M50ku sendirian dan sedang asyik dengerin radio Suara Surabaya...

cuek saja saat melintasi perkelahian itu sambil sedikit menoleh ke arah seorang laki-laki yang sedang dikeroyok 4 orang lawannya… dia dikejar habis-habisan dan mencoba menerobos kerumunan penonton untuk mencari selamat.Terbelalak mataku bengitu sadar siapa lelaki yang sedang dikerjar tersebut, ternyata dia Kakak temanku namanya Anton. Yang ngga’ jelas kenapa dia ada di sana dan dikeroyok orang segala, tapi aku sudah tidak sempat berpikir lebih jauh, segera saja aku pinggirkan kendaraanku dan aku turun untuk membantunya.

Aku tarik dua orang yang sedang memukulnya karena Anton sudah jatuh terduduk dan dihajar berempat. Sekarang Anton mengurus dua orang dan aku dua orang memang masih tidak seiimbang… dalam perkelahianku aku berhasil menangkap satu dari lawanku dan aku jepit kepalanya dengan lengan kiriku sedang lengan kananku aku gunakan untuk menghajarnya, sementara aku berusaha menggunakan kakiku untuk melawna yang satunya lagi aku tak sempat lihat apa yang dilakukan Anton. waktu seakan sudah tidak dapat dihitung lagi demikian cepatnya sampai hal terakhir yang masih aku ingat adalah aku merasakan perih di pinggang kanan belakangku, dan saat kutengok ternyata aku ditusuk dengan sebilah belati dari belakang oleh entah siapa, sambil menahan sakit aku merenggangkan jepitanku pada korbanku dan berusaha melakukan tendangan memutar, sasaranku adalah lawan yang di depanku. Namun pada saat melakukan tendangan memutar sambil melayang. Tiba-tiba aku melihat ayunan stcik soft ball ke arah kakiku yang terjulur. Nggak ampun lagi aku jatuh terjerembab dan gagal melancarkan tentangan mautku, sesampainya aku di tanah dengan agak tertelungkup aku merasakan pukulan bertubi-tubi. Mungkin lebih dari 3 orang yang menghajarku. Terakir kali kuingat aku merasakan beberapa kali tusukan sampai akhirnya aku sadar sudah berada di rumah sakit.

Aku tidak jelas berada di rumah sakit mana yang pasti berisik sekali dan ruangannya panas. Dalam ruangan tersebut ada beberapa ranjang… pada saat aku berusaha untuk melihat bagian bawahku yang terluka aku masih merasakan nyeri pada bagian perutku dan kaki kananku serasa gatal dan sedikit kebal (mati rasa), aku coba untuk geser kakiku ternyata berat sekali dan kaku. Kemudian aku paksakan untuk tidur.

Sore itu aku dijenguk oleh Dian adik Anton, Dian ini teman kuliahku. Dia datang bersama dengan Mita adiknya yang di SMA, katanya habis jenguk Anton dan Anton ada di ruang sebelah.

"Makasih ya Joss... kalo ngga’ ada kamu kali Anton sudah..." katanya sambil menitikkan air mata.
"Sudahlah, semua ini sudah berlalu. Tapi kalo boleh aku tau kenapa Anton sampe dikeroyok gitu ?" tanyaku penasaran.
"Biasa gawa-gara cewek, mereka goda cewek Airlangga dan cowoknya marah makanya dikeroyok. Emang sich bukan semua yang ngeroyok itu anak Airlangga sebagian kebetulan musuh Anton dari SMA, sialnya Anton saja ketemu lagi dan suasananya kayak gitu. Jadi dech di dihajar rame-rame" jawab Mita.
"Kak Jossy yang luka apanya saja ?" tanya Mita.

"Tau nih, rasanya nggak keruan." jawabku.
"Lihat aja sendiri, soalnya aku nggak bisa gerak banyak. Kamu angkat selimutnya sekalian aku juga mo tau" lanjutku pada Mita.
"Permisi ya Kak" kata Mita langsung sambil membuka selimutku (hanya diangkat saja).

Sesaat dia pandangi luka-lukaku dan mungkin karena banyak luka sehingga dia sampe bengong gitu, dan pas aku lihat pinggangku dibalut sampe pinggul dan masih tembus oleh darah, di bawahnya lagi aku melihat... ya ampun pantes ni anak singkong bengong, meriamku tidak terbungkus apa-apa dan yang seremnya kepalanya yang gede kelihatan menarik sekali. Seperti perkedel. Sesaat kemudian aku masih sempat melihat kaki kananku digips. Mungkin patah kena stick soft ball.

Mita menutup kembali selimut tadi dan Dian tidak sempat melhat lukaku karena dia sibuk nangis, hatinya memang lemah sepertinya dia melankolis sejati.

"Mita sini aku mo bilangin kamu" kataku... Mitapun menunduk mendekatkan telinganya ke mulutku.
"Jangan bilang sama Dian soal apa yang kamu lihat barusan... kamu suka nggak ?" kataku berbisik.
"Serem..." bisiknya bales.
"Dian, kamu jangan lihat lukaku. Nanti kamu makin nggak kuat lagi nahan nangis...” kataku.
"Tapi paling tidak aku mo tau... boleh aku raba...?" tanyanya.
"Silahkan, pelan-pelan ya. Masih belum kering lukanya." jawabku.

Dian pun memasukkan tangannya ke balik selimut dan mulai meraba dari dada, ke perut. Di situ dia merasakan ada balutan, digesernya ke kanan kiri, terus ke bawahan dikit...

"Kok perbannya sampe gini... lukanya kayak apa ? "
"Wah aku sendiri belum jelas...” aku jawab pertanyaan Dian.

Turun lagi tangannya ke pinggul kanan, kena kulitku. Terus ke tengah, kena meriamku. Dia raba setengah menggenggam untuk meyakinkan apa yang tersentuh tangannya. Tersentak dan dia menarik tangannya sedikit sambil melepas pengangannya pada meriamku.

"Sorry, nggak tau..."
"Nggak apa-apa kok, malah enak kalo sekalian dipijitin. Soalnya badanku sakit semua..." kataku nakal.
"Nah, Kak Dian pegang anunya Kak Joss ya ? ” goda Mita. Merah wajah Dian ditembak gitu.
Dian terus saja meraba sampe pada kaki kananku dan dia menemukan gips...
"Lho, kok digips...?"
"Iya patah tulangnya kali" jawabku asal untuk menenangkan pikirannya.

Dian selesai merabaiku, tapi tampak sekali dia masih kepikiran soal sentuhan pada meriam tadi dan sesekali matanya masih melirik ke sekitar meriamku. Sedang aku juga sedang menikmati dan membayangkan ulang kejadian barusan. Flash back lah.

Tanpa sadar tiba-tiba meriamku meradang dan mulai bangun sehingga tampak pada selimut tipis kalo ada sesuatu perkembangan di sana.
"Kak Joss, anunya bangun..." bisik Dian padaku sambil dia ambil selimut lain untuk menutupnya. Tapi tangannya berhenti dan diam di atasnya.
"Supaya Mita nggak ngelihat." bisiknya lagi.

Aku cuman bisa mengangguk, aku sadar ujung penisku masih dapat menggapai telapaknya. Aku coba kejang-kejangkan penisku dan Dian seperti merasa dicolek-coleh tangannya.

"Mit, kamu pamit sama Mas Anton dech. Kita bentar lagi pulang dan biar mereka istirahat." kata Dian, dan Mitapun melangkah keluar ruangan.
"Kak Joss, nakal sekali anunya ya..." bisik Dian. Aku balas dengan ciuman di pipinya.
"Dian, tolongin donk. Diurut-urut itunya, biar lupa sakitnya." pintaku.
"Iya dech..." jawab Dian langsung mengurut meriamku dari luar selimut. Biar nggak nyolok dengan pasien lain, walaupun antara ranjang ada penyekatnya.

"Dian, dari dalem aja langsung. Biar cepetan..." pintaku karena merasa tanggung dan waktunya mepet sekali dia mo pulang. Dian menuruti permintaanku dengan memeriksa sekitar lebih dulu, terus tangannya dimasukkan dalam selimutku langsung meremas meriamku. Dielusnya batangku dan sesekali bijinya dikocoknya dengan lembut sekali.

Wah gila rasanya, lama juga Dian memainkan meriamku, sampe aku nggak tahan lagi dan crrooottt... crot... ccrrrooootttt... beberapa kali keluar.
Tiba-tiba Mita datang dan buru-buru Dian tarik tangannya dari balik selimut, sedikt kena spermaku telapak tangan Dian. Dia goserkan pada sisi ranjang untuk mengelapnya.

"Sudah Kak Joss, aku sama Mita mo pulang..." pamit Dian.
"Sudah keluar khan...” bisiknya pada telingaku. cup... pipiku diciumnya.
"Cepet sembuhnya, besok aku tengok lagi" Dia sengaja menciumku untuk menyamarkan bisikannya yang terakhir.
"Eh, kalo bisa bilangin susternya aku minta pindah kelas satu donk. Di sini gerah" pintaku pada mereka.

Merekapun keluar kamar dan melambaikan tangan. Satu jam kemudian aku dipindahkan ke tempat yang lebih bagus, ada AC-nya dan ranjangnya ada dua. Tapi ranjang sebelah kosong. Posisi kamarku agak jauh dari pos jaga suster perawat… itu aku tau saat aku didorong dengan ranjang beroda.

"Habis gini mandi ya" kata suster perawat sehabis mendorongku.

Tidak lama kemudian dia sudah balik dengan ember dan lap handuk. Dia taruh ember itu di meja kecil samping ranjangku dan mulai menyingkap selimutku serta melipatnya dekat kakiku. Terbuka sudah seluruh tubuhku, pas dia lihat sekita meriamku terkejut dia. Ada dua hal yang mengagetkannya.

Yang pertama adalah ukuran meriam serta kepalanya yang di luar normal. Besar sekali. Dan yang kedua ada hasil kerjaan Dian, spermaku masih berantakan tanpa sempat dibersihkan walaupun sebagian menempel di selimut, tapi bekasnya yang mengering di badanku masih jelas terlihat.

"Kok... kayaknya habis orgasme ya ?" tanyanya. Lalu tanpa tunggu aju jawab dia ambil wash lap dan sabun.
"Sus... jangan pake wash lap, geli... saya nggak biasa" kataku.

Suster itu mulai dengan tanganku. Dibasuh dan disabunnya, usapannya lembut sekali, sambil dimandiin aku pandangi wajahnya, dadanya, cukup gede kalo aku lihat. Orangnya agak putih, tangannya lembut. Selesai dengan yang kiri sekarang ganti tangan kananku, dan seterusnya ke leher dan dadaku. Terus diusapnya, sapuan telapak tangannya lembut aku rasakan dan akupun memejamkan mata untuk lebih menikmati sentuhannya.
Sampe juga akhirnya pada meriamku, dipegangnya dengan lembut. Ditambah sabun, digosok batangnya, bijinya, kembali ke batangnya... dan aku nggak kuat untuk menahan supaya tetap lemas... Akhirnya berdiri juga. Pertama setengah tiang lama-lama juga akhirnya penuh...keras... dia bersihkan juga sekitar kepala meriamku sambil berkata lirih

"Ini kepalanya besar sekali, baru kali ini saya lihat kayak gini besarnya"
"Sus..., enak dimandiin gini..." kataku memancing.
Dia diam saja tapi yang jelas dia mulai mengocok dan memainkan batangku. Kaya’nya dia suka dengan ukurannya yang menakjubkan.
"Enak Mas kalo diginikan...?" tanyanya dengan lirikan nakal.

"Ssshh, iya terusin ya Sus sampe keluar.." kataku sambil menahan rasa nikmat yang nggak ketulungan. Ttangan kirinnya mengambil air dan membilas meriamku. Kemudian disekanya dengan tangan kanannya. Kenapa kok diseka pikirku, tapi aku diam saja. Mengikuti apa yang mau dia lakukan, pokoknya jangan berhenti sampe sini aja. Pusing nanti...

Dia dekatkan kepalanya, dan dijulurkan lidahnya ke kepala meriamku dijilatnya perlahan dan lidahnya mengitari kepala meriamku...
Sejuta rasanya... wow... enak sekali. Lalu dikulumnya meriamku, aku lihat mulutnya sampe penuh rasanya dan belum seluruhnya tenggelam dalam mulutnya yang mungil. Bibirnya yang tipis terayun keluar masuk saat menghisap maju mundur.
Lama juga aku diisep suster jaga ini, sampe akhirnya aku nggak tahan lagi dan crooott... crooott... nikmat sekali. Spermaku tumpah dalam rongga mulutnya dan ditelannya habis... sisa pada ujung meriamkupun dijilat serta dihisapnya habis.

"Sudah sekarang dilanjutkan mandinya ya..." kata suster itu dan dia melanjutkan memandikan kaki kiriku setelah sebelumnya mencuci bersih meriamku. Badanku dibaliknya, dan dimandikan pula sisi belakang badanku.

Selesai acara mandi...
"Nanti malam saya ke sini lagi nanti saya temenin..." katanya sambil membereskan barang-barangnya. terakhir sebelum keluar kamar dia sempat menciumku... pas di bibir... hangat sekali.
"Nanti malam saya kasih yang lebih hebat..." begitu katanya.

Akupun berusaha untuk tidur nikmat sekali sore ini dua kali keluar dibantu dua cewek yang berbeda. Ini mungkin ganjaran dari menolong teman. Gitu hiburku dalam hati, sambil memikirkan apa yang akan kudapat malam nanti akupun tertidur lelap sekali.

Tiba-tiba aku dibangunkan oleh suster yang tadi lagi, tapi aku belum sempat menyanyakan namanya. Baru setelah dia mo keluar kamar selesai meletakkan makananku dan membangunkanku. Namanya Anna. Cara dia membangunkanku cukup aneh, rasanya suster di manapun tidak akan melakukan dengan cara ini. Dia remas-remas meriamku, sambil digosoknya lembut sampe aku bangun dari tidurku.

Langsung aku selesaikan makanku dengan susah payah… akhirnya selesai juga… lalu aku tekan bel… dan tak lama kemudian datang suster yang lain… aku minta dia nyalakan TV di atas dan mengakat makananku.
Aku nonton acara-acara TV yang membosankan dan juga semua berita yang ditayangkan… tanpa konsentrasi sedikitpun.
Sekitar jam 9 malam suster Wiwik datang untuk mengobati lukaku dan mengganti perban… pada saat dia melihat meriamkupun dia takjub…

“Ngga’ salah apa yang diomongkan temen-temen di ruang jaga ” demikian komentarnya.
“Kenapa Sus ? ” tanyaku ngga’ jelas.
“Oo… itu tadi teman-teman bilang kalo pasien yang dirawat di kamar 26 itu kepalanya besar sekali. ” jawabnya.
Setelah selesai dengan mengobati lukaku dan dia akan tinggalkan ruangan… sebelum membetulkan selimutku dia sempatkan mengelus kepala meriamku…
” Hmmm… gimana ya rasanya ? ” gumamnya tanya meminta jawaban.

Dan akupun hanya senyum saja. Wah suster di sini gila semua ya pikirku… soalnya aku baru kenal dua orang dan dua-duanya suka sama meriamku… minimal tertarik… dan lagian ada promosi gratis di ruang jaga suster kalo ada pasien dengan kepala meriam super besar… promosi yang menguntungkan… semoga ada yang terjerat ingin mencoba… selama aku masih dirawat di sini.

Jam 10an kira-kira aku mulai tertidur… aku mimpi indah sekali dalam tidurku… karena sebelum tidur tadi otakku sempat berpikir jorok. Aku merasakan hangat sekali pada bagian selangkanganku… tepatnya pada bagian meriamku… sampe aku terbangun ternyata… suster Anna sedang menghisap meriamku… kali ini entah jam berapa ? Dengan bermalas-malasan aku nikmat terus hisapannya… dan aku mulai ikut aktif dengan meraba dadanya… suatu lokasi yang aku anggap paling dekat dengan jangkauanku. Aku buka kanding atasnya dua kancing… aku rogoh dadanya di balik BH putihnya… aku dapati segumpal daging hangat yang kenyal… kuselusuri… sambil meremas-remas kecil.. sampe juga pada putingnya… aku pilin putingnya… dan Sus Annapun mendesah… entah berapa lama aku dihisap dan aku merabai Sus Anna… sampe dia minta

“Mas… masih sakit ngga’ badannya ? ”
” Kenapa Sus ? ” tanyaku bingung. “Enggak kok… sudah lumayan enakan… ” dan tanpa menjawab diapun meloloskan CDnya… dimasukkan dalam saku baju dinasnya. Lalu dia permisi padaku dan mulai mengangkangkan kakinya di atas meriamku… dan bless… dia masukkan batangku pada lobangnya yang hangat dan sudah basah sekali… diapun mulai menggoyang perlahan… pertama dengan gerakan naik turun…lalu disusul dengan gerakan memutar… wah… suster ini rupanya sudah prof banget… lobangnya aku rasakan masih sangat sempit… makanya dia juga hanya berani gerak perlahan… mungkin juga karena aku masih sakit… dan punya banyak luka baru. Lama sekali permainan itu dan memang dia ngga’ ganti posisi… karena posisi yang memungkinkan hanya satu posisi… aku tidur di bawah dan dia di atasku. Sampe saat itu belum ada tanda-tanda aku akan keluar… tapi kalo tidak salah dia sempat mengejang sekali tadi dipertengahan dan lemas sebentar lalu mulai menggoyang lagi… sampe tiba-tiba pintu kamarku dibuka dari luar… dan seorang suster masuk dengan tiba-tiba…

Kaget sekali kami berdua… karena tidak ada alasan lain… jelas sekali kita sedang main… mana posisinya… mana baju dinas Suster Anna terbuka sampe perutnya dan BHnya juga sudah kelepas dan tergeletak di lantai. Ternyata yang masuk suster Wiwik… dia langsung menghampiri dan bilang
“Teruskan saja An… aku cuman mau ikutan… mumpung sepi ”

Suster Wiwikpun mengelus dadaku… dia ciumin aku dengan lembut… aku membalasnya dengan meremas dadanya… dia diam saja… aku buka kancingnya… terus langsung aku loloskan pakaian dinasnya… aku buka sekalian BHnya yang berenda… tipis dan merangsang… membal sekali tampak pada saat BH itu lepas dari badannya… dada itu berguncang dikit… kelihatan kalo masih sangat kencang… tinggal CD minim yang digunakannya.

Suster Anna masih saja dengan aksinya naik turun dan kadang berputar… aku lhat saja dadanya yang terguncang akibat gerakannya yang mulai liar… lidah suster Wiwik mulai memasuki rongga mulutku dan kuhisap ujung lidahnya yang menjulur itu… tangan kiriku mulai merabai sekitar selangkangan suster Wiwik dari luar… basah sudah CDnya… pelan aku kuak ke samping… dan kudapat permukaan bulu halus menyelimuti liang kenikmatannya… kuelus perlahan… baru kemudian sedikit kutekan… ketemu sudah aku pada clitsnya… agak ke belakang aku rasakan makin menghangat.

Tersentuh olehku kemudian liang nikmat tersebut… kuelus dua tiga kali sebelum akhirnya aku masukkan jariku ke dalamnya. Kucoba memasukkan sedalam mungkin jari telunjukku… kemudian disusul oleh jari tengahku… aku putar jari-jariku di dalamnya… baru kukocok keluar masuk… sambil jempolku memainkan clitsnya. Dia mendesar ringan… sementara suster Anna rebahan karena lelah di dadaku dengan pinggulnya tiada hentinya menggoyang kanan dan kiri… suster Wiwik menyibak rambut panjang suster Anna dan mulai menciumi punggung terbuka itu… suster Anna makin mengerang… mengerang…. dan mengerang…. sampai pada erangan panjang yang menandakan dia akan orgasme… dan makin keras goyangan pinggulnya… sementara aku mencoba mengimbangi dengan gerakan yang lebih keras dari sebelumnya… karena dari tadi aku tidak dapat terlalu bergoyang… takut lukaku sakit.

Suster Anna mengerang…. panjang sekali seperti orang sedang kesakitan… tapi juga mirip orang kepedasan… mendesis di antara erangannya… dia sudah sampe… rupanya… dan… dia tahan dulu sementara… baru dicabutnya perlahan… sekarang giliran suster Wiwik… dilapnya dulu… meriamku dikeringkan… baru dia mulai menaikiku… batin… kurang ajar suster-suster ini aku digilirnya… dan nanti aku juga mesti masih membayar biaya rawat… gila… enak di dia… tapi….. enak juga dia aku kok… demikian pikiranku… ach… masa bodo…. POKOKNYA PUAS !!! Demikian kata iklan.

Ketika suster Wiwik telah menempati posisinya… kulihat suster Anna mengelap liang kenikmatannya dengan tissue yang diambilnya dari meja kecil di sampingku. Suster Wiwik seakan menunggang kuda… dia goyang maju mundur… perlahan tapi penuh kepastian… makin lama makin cepat iramanya… sementara tanganku keduanya asyik meremas-remas dadanya yang mengembung indah… kenyal sekali rasanya… cukup besar ukurannya dan lebih besar dari suster Anna punya… yang ini ngga’ kurang dari 36… kemungkinan cup C… karena mantap dan tanganku seakan ngga’ cukup menggenggamnya.

Sesekali kumainkan putingnya yang mulai mengeras… dia mendesis… hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya… desisan itu sungguh manja kurasakan… sementara suster Anna telah selesai dengan membersihkan liang hangatnya… kemudian dia mulai lagi mengelus-elus badan telanjang suster Wiwik dan tuga memainkan rambutku… mengusapnya…

Kemudian karena sudah cukup pemanasannya… dia mulai menaiki ranjang lagi… dikangkangkannya kakinya yang jenjang di atas kepalaku… setengah berjongkok gayanya saat itu dengan menghadap tembok di atas kepalaku… dan kedua tangannya berpegangan pada bagian kepala ranjangku. Mulai disorongkannya liangnya yang telah kering ke mulutku… dengan cepat aku julurkan lidahku…. aku colek sekali dulu dan aku tarik nafas…. hhhmmmm…… harus khas liang senggama…. kujilat liangnya dengan lidahku yang memang terkenal panjang… kumainkan lidahku… mereka berdua mengerang berbarengan kadang bersahutan…

Aku ingin tau sekarang ini jam berapa ? Jangan sampe erangan mereka mengganggu pasien lain… karena aku mendengarnya cukup keras… aku tengok ke dinding… kosong ngga’ ada jam dinding… aku lihat keluar… kearah pintu… mataku terbelalak… terkejut… shock… benar-benar kaget aku… lamat-lamat aku perhatikan… di antara pintu aku melihat seberkas sinar mengkilap… sambil terus menggoyang suster Wiwik… meninggalkan jilatan pada suster Anna… aku konsentrasi sejenak pada apa yang ada di belakang pintu… ternyata… pintupun terbuka… makin gila aku makin kaget… dan deg… jantungku tersentak sesaat… lalu lega… tapi… yang dateng ini dua temen suster yang sedang kupuaskan ini… kaya’nya kalo marah sich ngga’ bakalan.. mereka sepertinya telah cukup lama melihat adegan kami bertiga… jadi maksud kedatangannya hanya dua kemungkinan… mo nonton dari dekat atau ikutan… ternyata….

“Wah… wah… wah… rajin sekali kalian bekerja… sampe malem gini masih sibuk ngurus pasien… ” demikian kata salah seorang dari mereka…
“Mari kami bantu ” demikian sahut yang lainnya yang berbadan kecil kurus dan berdada super… Jelas ini jawabannya adalah pilihan kedua.
Merekapun langsung melepas pakaian dinas masing-masing… satu mengambil posisi di kanan ranjang dan satu ngambil posisi di kiri ranjang… secara hampir bersamaan mereka menciumi dada… leher… telinga dan semua daerah rangsanganku… akupun mulai lagi konsentrasi pada liang suster Anna… sementara kedua tanganku ambil bagian masing-masing… sekarang semua bagian tubuhku yang menonjol panjang telah habis digunakan untuk memuaskann 4 suster gatel…… malam ini… tidak ada sisa rupanya…. terus bagaimana kalo sampe ada satu lagi yang ikutan ?

Jari-jariku baik dari tangan kanan maupun kiri telah amblas dalam liang hangat suster-suster gatel tersebut… untuk menggaruknya kali… aku kocok-kocokkan keluar masuk ya lidahku… ya jariku… ya meriamku… rusak sudah konsentrasiku…
Ini permainan Four Whell Drive ( 4 WD )atau bisa juga disebut Four Wheel Steering ( 4 WS )… empat-empatnya jalan semua… kaya’nya kau makin piawai dalam permainan 4DW / 4 WS ini karena ini kali dua aku mencoba mempraktekkannya.
Lama sekali permainannya… sampe tiba-tiba suster Wiwik mengerang…. kesar dan panjang serta mengejang…

Setelah suster Wiwik selesai… dan mencabut meriamku… suster Anna berbalik posisi dengan posisi 69… kami saling menghisap dan permainan berlanjut… sekali aku minta rotasi… yang di kananku untuk naik… yang di atas ( suster Anna ) aku minta ke kiri dan suster yang di kiri aku minta pindah posisi kanan.

Tawaran ini tidak disia-siakan oleh suster yang berkulit agak gelap dari semua temannya… dia langsung menancapkan meriamku dengan gerakan yang menakjubkan… tanpa dipegang…. diambilnya meriamku yang masih tegang dengan liangnya dan langsung dimasukkan… amblas sudah meriamku dari pandangan. Diapun langsung menggoyang keras… rupanya sudah ngga’ tahan…

Benar juga sekitar 5 menit dia bergoyang sudah mengejang keras dan mengerang…. mengerang…. panjang serta lemas. Sementara tingal dua korban yang belum selesai… aku minta bantuan suster yang masih ada di sana untuk membantu aku balik badan… tengkurap… kemudian aku suruh suster yang pendek dan berdada besar tadi untuk masuk ke bawah tubuhku…. sedangkan suster Anna aku suruh duduk di samping bantal yang digunakan suster kecil tadi. Perlahan aku mulai memasukkan meriam raksasaku pada liang suster yang bertubuh kecil ini… sulit sekali… dan diapun membantu dengan bimbingan test…. Setelah tertancap… tapi sayangnya tidak dapat habis terbenam… rasanya mentok sekali… dengan bibir rahimnya… akupun mulai menggoyang suster kecil dan menjilati suster Anna. Mereka berdua kembali mendesah…. mengerang…. mendesah dan kadang mendesis… kaya’ ular.

Aku sulit sekali sebenarnya untuk mengayun pinggulku maju mundur…. jadi yang bisa aku lakukan cuman tetap menancapkan meriamku pada liang kenikmatan suster mungil ini sambil memutar pinggulku seakan meng-obok-obok liangnya… sedangkan dadanya yang aku bilang super itu terasa sekali mengganjal dadaku yang bidang… kenikmatan tiada tara sedang dinikmati si mungil di bawahku ini… dia mendesis tak keruan… sedang lidahku tetap menghajar liang kenikmatan suster Anna… sesekali aku jilatkan pada clitsnya… dia menggelinjang setiap kali lidahku menyentuh clitsnya… mendengar desisan mereka berdua aku jadi ngga’ tahan… maka dengan nekat aku keraskan goyangan pinggulku dan hisapanku pada suster Anna… dia mulai mengejang… mengerang dan kemudian disusul dengan suster yang sedang kutindih…. suster Anna sudah lemas… dan beranjak turun dari posisinya...

Aku tekan lebih keras suster mungil ini sambil dadanya yang menggairahkan ini aku remas-remas semauku… aku sudah merasakan hampir sampe juga… sedang suster mungil masih mengerang... terus dan terus... kaya'nya dia dapat multi orgasme dan panjang sekali orgasme yang didapatnya... aku coba mengjar orgasmenya... dan... dan... berhasil juga akhirnya... aku sodok dan benamkan meriamku sekuat-kuatnya… sampe dia melotot... aku didekapnya erat sekali... dan

"Adu…..uh enak sekali… ” demikian salah satu katanya yang dapat aku dengar.
Akupun ambruk diatas dada besar yang menggemaskan itu… lunglai sudah tubuh ini rasanya… menghabisi 4 suster sekaligus… suatu rekord yang gila… permainan Four Wheel Drive kedua dalam hidupku… pada saat mencabutnyapun aku terpaksa diantu suster yang lain…

“Kasihan pasien ini nanti sembuhnya jadi lama… soalnya ngga’ sempet istirahat” kata suster yang hitam.
“Iya dan kaya’nya kita akan setiap malam rajin minta giliran kaya’ malem ini ” sahut suster Wiwik.
“Kalo itu dibuat system arisan saja ” kata suster Anna sadis sekali kedengarannya. Emangnya aku meriam bergilir apa ?

Malam itu aku tidur lelaap sekali dan aku sempat minta untuk suster mungil menemaniku tidur, aku berjanji tiap malam mereka dapat giliran menemaniku tidur… tapi setelah mendapat jatah batin tentunya. Suster mungil ini bernama Ratih dan malam itu kami tidur berdekapan mesra sekali seperti pengantin baru dan sama-sama polos… sampe jam 4 pagi… dia minta jatah tambahan… dan kamipun bermain one on one ( satu lawan satu, ngga’ keroyokan kaya' semalem ).

Hot sekali dia pagi itu… karena kami lebih bebas… tapi yang kacau adalah udahannya… aku merasa sakit karena lukaku berdarah lagi… jadi terpaksa ketahuan dech sama yang lain kalo ada sesi tambahan… dan merekapun rame-rame mengobati lukaku…. sambil masih pengen lihat meriam dasyat yang meluluh lantakkan tubuh mereka semaleman.

Abis gitu sekitar jam 5 aku kembali tidur sampe pagi jam 7.20 aku dibangunkan untuk mandi pagi. Mandi pagi dibantu oleh suster Dewi dan sempat diisep sampe keluar dalam mulutnya… nah suster Dewi ini yang kulitnya hitaman semalam. Nama mereka sering aku dapat setelah tubuh mereka aku dapat.

Hari kedua

Pagi jam 10 aku dibesuk oleh Dian dan Mita… mereka membawakan buah jeruk dan apel… aslinya sich aku ngga demen makan buah… setengah jam kami ngobrol bertiga. sampe suatu saat aku bilang pada Dian
“Aku mo minta tolong Ian… kepalaku pusing… soalnya aku dari semaleman ngga’ dapet keluar… dan aku ngga’ bisa self service ” demikian kataku membuka acara… dan akupun bercerita sedikit kebiasaanku pada Dian dengan bumbu tentunya.

Aku cerita kalo biasa setiap kali mandi pagi aku suka onani kalo semalemnya ngga’ dapet cewek buat nemenin tidur… dan sorenya juga suka main lagi… Dian bisa maklum karena aku dulu sempat samen leven dengan Nana temannya yang hyper sex selama 8 bulan lebih… dia juga tahu kehidupanku tidak pernah sepi cewek. Dengan dalih dia mo bantu aku karena hal ini dianggap sebagai bales jasa menyelamatkan jiwa kakaknya… yang aku selamatkan dari keroyokan kemarin… sampe akhirnya aku sendiri masuk rumah sakit.

Dia minta Mita adiknya keluar dulu karena malu, tapi Mita tau apa yang akan dilakukan Dian padaku… karena pembicaraan tadi di depan Mita. Sekeluarnya Mita dari kamar… Dian langsung memasukkan tangannya dalam selimutku dan mulailah dia meremas dan mengelus meriamku yang sedang tidur… sampe bangun dan keras sekali… setelah dikocoknya dengan segala macam cara masih belum keluar juga sedang waktu sudah menunjukkan pukul 10.45 berarti jam besuk tinggal 15 menit lagi maka aku minta Dian menghisap meriamku. Mulanya dia malu… tapi dikerjakannya juga… demi bales jasa kaya’ya… atau dia mulai suka ?

Akhirnya keluar juga spermaku dan kali ini tidak diselimut lagi tapi dalam mulut Dian dan ini pertama kali Dian meneguk spermaku… juga pertama kali teman kuliahku ini ngisep punyaku… kaya’nya dia juga belum mahir betul… itu ketahuan dari beberapa kali aku meringis kesakitan karena kena giginya.

Spermaku ditelannya habis… sesuai permintaanku dan aku bilang kalo sperma itu steril dan baik buat kulit… benernya sich aku ngga’ tau jelas… asal ngomong aja dan dia percaya… setelah menelan spermaku dia ambil air di gelas dan meminumnya… belum biasa kali. Aku tengok ke jendela luar saat Dian ambil minum tadi… ternyata aku melihat jendela depan yang menghadap taman tidak tertutup rapat dan aku sempat lihat kalo Mita tadi ngintip kakaknya ngisep aku…

Jam 11.05 mereka berdua pamit pulang… selanjutnya aku aku makan siang dan tidur sampe bangun sekitar jam 3 siang. Dan aku minta suster jaga untuk memindahkanku ke kursi roda… sebelum dipindahkan aku diobati dulu dan diberi pakeaian seperti rok panjang terusan agak gombor. dengan kancing banyak sekali di belakangnya.

Pada saat mengenakan pakaian tersebut dikerjakan oleh dua suster shift pagi… suster Atty dan suster Fatima, pada saat mereka berdua sempat melihat meriamku… mereka saling berpandangan dan tersenyum terus melirik nakal padaku… aku cuek saja… pada saat aku mo dipindahkan ke kurasi roda aku diminta untuk memeluk suster Fatima… orangnya masih muda sekitar 23 tahunan kira-kira… rambutnya pendek… tubuhnya sekitar 159 Cm… dadanya sekitar 34 B… pada saat memeluk aku sedikit kencangkan sambil pura-pura ngga’ kuat berdiri… aku dekap dia dari pinggang ke pundak ( seperti merengkuh ) dengan demikian aku telah menguncinya sehingga dia tidak dapat mengambil jarak lagi dan dadanya pas sekali dipundakku… greeng… meriamku setengah bangun dapat sentuhan tersebut.
“Agak tegak berdirinya Mas… berat soalnya badan Masnya ” kata suster Fatima.

Akupun mengikut perintahnya dengan memindahkan tangan kananku seakan merangkulnya dengan demikian aku makin mendekatkan wajahnya ke leherku dan aku dorong sekalian kepalaku sehingga dia secara ngga’ sadar bibirnya kena di leherku… sementara suster Atty membetulkan letak kursi roda… aku lihat pinggulnya dari berlakang… wah… bagus juga ya…

Suster Fatima bantu aku duduk di kursi roda dan suster Atty pegang kursi roda dari belakang…pada saat mo duduk pas mukaku dekat sekali dengan dada suster Fatima… aku sempetin aja desak dan gigit dengan bibir berlapis gigi ke dada tersebut… karena beberapa terhenti aku dapat merasakan gigitan itu sekitar 2 detikan dech… dia diam saja… dan saat aku sudah duduk…. dan suster Atty keluar kamar…
“Awas ya… nakal sekali ” kata suster Fatima sambil mendelik. Aku tau dia ngga’ marah cuman pura-pura marah aja
“Satunya belum Sus,” kataku menggoda…
“Enak aja… geli tau ?” jawabnya sewot.
“Nanti saya cubit baru tau ” lanjutnya sambil langsung mencubit meriamku… dan terus dia ngeloyor keluar kamar dengan muka merah… karena meriamku saat itu sudah full standing karena abis nge-gigit toket… jadi terangsang… “Sus… tolong donk saya di dorong keluar kamar” kataku sebelum sempat suster Fatima keluar jauh. Diapun kembali dan mendorongku ke teras kamar… menghadap taman. Aku bengong di teras… sambil menghisap rokokku… di pangkuanku ada novel tapi rasanya males mo baca novel itu… jadinya aku bengong saja sore itu di teras sambil ngelamun aku mikirin rencana lain untuk malam ini… mo pake gaya apa ya ?

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan telapak tangan yang menutup mataku… “Siapa ini ? Kok tangannya halus… dingin dan kecil… Siapa ni ? ” kataku… Terus dilepasnya tangan tersebut dan dia ke arah depanku… baru kutau dia Mita adik Dian. Kok sendirian ?
“Mana Mita ?” tanyaku…
“Lagi ketempat dosennya mo ngurus skripsi” jawab Mita.

“Jadi ngga’ kesini donk ? ” tanyaku penasaran.
“Ya ngga’ lah… ini saya bawain bubur buatan Mama” katanya sambil mendorongku masuk kamar… dia letakkan bubur itu di atas meja kecil samping ranjang.
Terus kami ngobrol… sekitar 10 menit sampe aku bilang “Mit… ach ngga’ jadi dech… ” kataku bingung gimana mo mulainya… maksudku mo jailin dia untuk ngeluarin aku seperti yang dilakukan kakaknya tadi pagi… bukankah dia juga udah ngintip… kali aja dia pengen kaya’ kakaknya… mumpung lagi cuman berduaan…

“Kenapa Kak ?” aku tak menjawab hanya mengernyitkan dahi saja…
“Pusing ya ?” tanyanya lagi.

“Iya ni… penyakit biasa” kataku makin berani… kali bisa…
” Kak… gimana ya ? Tadi khan udah ? ” katanya mulai ngerti maksudku… tapi kaya’nya dia bingung dan malu… merah wajahnya tampak sekali.
“Mit… sorry ya… kalo kamu ngga’ keberatan tolongin Kakak donk… ntar malem Kakak ngga’ bisa tidur… kalo… ” kataku mengarah dan sengaja tidak menyelesaikan kata-kataku supaya terkesan gimana gitu….
“Iya Mita tau Kak… dan kasihan sekali… tapi gimana Mita ngga’ bisa… Mita malu Kak… ”
“Ya udah kalo kamu keberatan… aku ngga’ mo maksa… lagian kamu masih kecil…”
“Kak… Mita ciumin aja ya… supaya Kakak terhibur… jangan susah Kak… kalo Mita sudah besar dan sudah bisa juga mau kok bantuin Kak Jossy kaya tadi pagi ” kata dia sambil mencium pipiku.
“Iya dech… sini Kak cium kamu ” kataku dan diapun pindah kehadapanku.

Dia membungkuk sehingga ada kelihatan dadanya yang membusung… aduh…. gila… usaha harus jalan terus ni… gimana caranya masa bodo… harus dapet… aku udah pusing berat.

Dan Mitapun memelukku sambil membungkuk… aku cium pipinya, dagunya… belakang telinganya kadang aku gigit lembut telinganya… pokoknya semua daerah rangsangan… aku coba merangsangnya… ciuman kami lama juga sampe nafasnya terasa sekali di telingaku.
Tangaku mencoba meremas dadanya… diapun mundur… mo menghidar…
“Mit… gini dech… aku sentuh kamu saja… ngga’ ngapain kok… supaya aku lebih tenang nanti malem ”
“Maaf Kak… tadi Mita kaget… Mita ngerti kok… Kak Joss gini juga gara-gara Mas Anton ” jawabnya penuh pengertian… atau dia udah kepancing ?

Diapun kembali… mendekat dan kuraih dadanya… aku remas…dan dia kembali menciumku… dari tadi tidak ada ciuman bibir hanya pipi dan telinga… saling berbalasan… sampe remasanku makin liar dan mencoba menyusup pada bajunya… melalui celah kancing atasnya.
Tangan Mita mulai turun dari dadaku ke meriamku… dan meremasnya dari luar…
“Aduh… enak sekali Mit… terusin ya… sampe keluar… biar aku ngga’ pusing nanti ” kataku nafsu menyambut kemajuannya.

Lama remasan kami berlangsung… sampe akhirnya Mita melorot dan berjongkok di depanku dan menyingkap pakaianku… dia mulai mo mencium meriamku… dengan mata redup penuh nafsu dia mulai mencium sayang pada meriamku.
” Masukin saja Mit… ” kataku.

Mitapun memasukkan meriamku dalam mulut mungilnya… sulit sekali tampaknya… dan penuh sekali kelihatan dari luar… dia mulai menghisap dan aku bilang jangan sampe kena gigi…
Tak perlu aku ceritakan proses isep-isepan itu… yang pasti saat aku ngga’ tahan lagi… aku tekan palanya supaya tetap nancep… dan aku keluarkan dalam mulut mungil Mita… terbelalak mata Mita kena semprot spermaku.
” Telen aja Mit… ngga’ papa kok ” kataku…
Diapun menelan spermaku… lalu dicabutnya dari mulut mungil itu… sisa spermaku yang meleleh di meriamku dan bibir mungilnya dilap pake tissue… dan dia lari ke kamar mandi…. sedang aku merapikan kembali pakaianku yang tersibak tadi.

Ada orang datang… kelihatan dari balik kaca jendela… ” Sorry Joss… aku baru bisa dateng sekarang… ngga’ dapet pesawat soalnya ” kata Bang Johnny yang datang bersama dengan kak Wenda dan Winny…
“Iya ini juga langsung dari airport ” kata Kak Wenda.
“Kamu kenapa si… ceritanya gimana kok bisa sampe kaya’ gini ?” tanya Winny…
“Lha kalian tau aku di sini dari mana ?” tanyaku bingung.
“Tadi malem kami telpon ke rumah ngga’ ada yang jawab sampe tadi pagi kami telpon terus masih kosong” kata Kak Wenda.
“Aku telpon ke rumahnya Donna yang di Kertajaya kamu ngga’ di sana… aku telpon rumahnya yang di Grand Family juga kamu ngga’ ada, malah ketemu sammy di sana” kata Winny.
“Sammy bilang mo bantu cari kamu… terus siang tadi Donna telpon katanya dia abis nelpon Dian dan katanya kamu dirawat di sini dan dia cerita panjang sampe kamu masuk rumah sakit ” kata Winny lagi.

Mereka tuh semua dari Jakarta karena ada saudara Kak Wenda yang menikah… dan rencananya pulangnya kemarin sore… pantes Kak Wenda telpon aku kemarin mungkin mo bilangin kalo pulangnya ditunda. Malah dapet berita kaya’ gini.
Mita keluar dari kamar mandi yang ada dalam kamarku itu kaget juga tau banyak orang ada di sana dan dia kaya’nya kikuk juga…
Setelah aku perkenalkan kalo ini Mita adiknya Dian dan kemudian Mita pamit mo jenguk kakaknya diruang lain.
Kamipun ngobrol seperginya Mita dari hadapan kami. Winny memandangku dengan sedih… mungkin kasihan tapi juga bisa dia cemburu sama Mita… ngapain ada dalam kamar mandi dan sebelumnya cuman berduaan aja sama aku di sini.

Selanjutnya tidak ada cerita menarik untuk diceritakan pada kalian semua… yang pasti mereka ngobrol sampe jam 5.20 karena minta perpanjangan waktu dan jam 5 tadi Mita datang lagi cuman pamit langsung pulang. Malamnya seperti biasa… kejadiannya sama seperti hari pertama… mandi sore diisep lagi… kali ini sustenya lain… dia suster Fatima yang sempet aku gigit toketnya tadi siang. Dan malemnya aku main lagi… dan tidur dengan suster Wiwik… suster Anna off hari itu… jadi waktu main cuman suster Wiwik, suster Ratih dan suster Dewi...

source

16 April 2013

Dua Malam Pertama

Reaksi: 
Kejadian yang dialami oleh seseorang tidaklah selalu sama seperti apa yang terlihat oleh mata banyak orang, ada sebuah rahasia. Bisa jadi yang tahu hanya orang itu sendiri atau orang lain yang terlibat dalam kejadian tersebut, tanpa disadari orang orang lain bahkan orang terdekat sekalipun. Dan kejadian unik akan menarik bila dituturkan dalam sebuah tulisan sebagai kisah. Seperti halnya kisahku di bawah ini.
Saya bermukim di kota S untuk kuliah, bertempat di rumah kakakku, Ryan. Dia sudah bekerja berusia 28 tahun sudah punya rumah tapi belum menikah. Di kampus saya punya teman karib, Jasmine (dieja: Yasmin) namanya, cantik, lincah, putih, usianya sebaya dengan aku, 19 tahun. Sore itu untuk pertama kali saya bertandang di rumah Jasmine, mengerjakan tugas bersama dia, di teras rumahnya yang cukup besar dan bagus itu. Selang beberapa saat kemudian ada mobil masuk halaman dan langsung masuk garasi.

"Mamaku.." kata Jasmine.
Setelah mobil parkir di tempatnya, saya memberi hormat dengan mendekati mamanya dan menyalami serta membungkuk sambil cium tangannya.
"Selamat sore Tante, Rizky temannya Jasmine" kataku memperkenalkan diri.
"Oh ya..." kata perempuan itu, sambil mengulurkan tangan berlalu bergegas masuk rumah.
"Catik sekali, mamanya Jasmine" pikirku.

Kelihatannya dari kantor, memakai uniform, baju lengan panjang dan celana panjang warna coklat muda rapat sekali. Kelihatan anggun, dan menarik, walau hanya bagian wajah yang kelihatan. Saya dan Jasmine berdua melanjutkan mengerjakan tugas, walaupun pandanganku terhadap mamanya Jasmine membuncah di pikiranku. Jasmine itu cantik, tapi saya pikir lebih cantik mamanya.

Di suatu hari saya berkunjung ke rumah Jasmine mengajak Ryan kakakku. Sepulang dari rumah Jasmine, kak Ryan tertarik dan bahkan jatuh cinta berat sama Jasmine, padahal selama ini dia sangat selektif terhadap cewek. Singkat cerita, kak Ryan dan Jasmine jadi pacaran dan rupanya mereka serius akan melangsungkan ke jenjang perkawinan. Just married begitulah. Saya mendukung dan senang, karena kakakku itu sudah cukup umur dan ingin cepat nikah. Permasalahnnya Jasmine masih kuliah, tapi akhirnya mau juga, karena kakakku mendesak, untuk menikah, kendati nanti tetap lanjutkan kuliah. Dalam masa pacaran itu Kak Ryan kadangkala mengajak saya saat apel, saya menurutinya, tapi saya juga tidak mau mengganggu mereka. Di kesempatan itu saya sering diajak ngobrol sama mamanya Jasmine, yang kemudian aku tahu namanya Bu Ani, akhirnya menjadi akrab dan familiar. Sejak kak Ryan pacaran dengan Jasmine saya tidak lagi memanggil 'tante' pada mamanya Jasmine, tetapi dengan sebutan Bu Ani, lebih berkesan menghormati.

"Kamu nggak kepingin, pacaran kayak Ryan?" kata bu Ani di suatu hari.
"Pingin sih pingin Bu, tapi dengan siapa?"
"Ya dengan cewek, masak dengan siapa...?"

Aku merasa semakin dekat dengan bu Ani ini, bila saya salaman pasti punggung tangannya aku kecup dengan bibirku dan dia tidak marah, hanya tersenyum saja. Walau aku tak mengerti arti senyumannya itu. Saya sering diajak serta saat mereka berbelanja di mall atau piknik di tempat wisata, kak Ryan tentu pacaran dengan Jasmine dan saya ngobrol dengan Bu Ani, menjadikan sangat familiar.

Kurang dari setahun pacaran, kak Ryan dan Jasmine menikah. Resepsi pernikahan diadakan siang hari di gedung, banyak tamu berdatangan memberi ucapan selamat. Setelah resepsi selesai, kedua orang tua dan kakak perempuanku malam itu langsung pulang, karena jarak rumah kami hanya 80km saja dari kota S. Semalam menjelang hari pernikahan, mereka sudah menginap di rumah kak Ryan. Kedua mempelai malam itu menuju ke rumah mempelai putri bersama dengan beberapa family dari Jasmine, yang mulai sekarang saya harus memanggil sebutan 'kak'. Malam itu saya diminta kakakku menemaninya, sebenarnya saya ingin pulang ke rumah kak Ryan, istirahat, lagi pula rumahnya kosong. Rumah Bu Ani yang berkamar empat itu cukup luas, tapi rupanya semua kamar penuh, karena banyak tamu familinya dari luar kota yang menginap. Kamar pengantin bersebelahan dengan kamar Bu Ani, dua kamar lagi untuk para tamu, dan agak kebelakang kamarnya Parti, pembantunya Jasmine. Karena rasa capai saya tertidur di karpet depan teve, karena memang tidak ada lagi kamar tidur. Bagi saya tidak masalah, karena sudah merasa terbiasa dengan keluarga ini. Di dorong oleh rasa lelah, malam itu aku terlena, dalam keheningan malam, sementara yang lain terlelap, ada tangan lembut yang mengusap pipiku, aku membuka mata, ternyata Bu Ani sudah bersimpul di sebelahku katanya setengah berbisik:

"Riz, kamu jangan tidur di sini, pindah sana" katanya sambil menunjuk kamarnya.
Tanpa pikir panjang saya beranjak, masuk kamar mengikuti langkah bu Ani. Kamar itu cukup luas dan indah interiornya, diterangi dengan lampu tidur yang redup menambah suasana romantis. Maklum kamarnya wanita, semua serba rapi.
"Terima kasih Bu, kataku" penuh hormat yang disambut dengan anggukan.
Saya merebahkan diri di ranjang besar, kemudian Bu Ani juga merebahkan diri di ranjang yang sama agak ke pinggir sebelah sana. Kami satu ranjang tapi tidak bersentuhan, karena cukup luas. Kalaupun ditempati tiga orang, juga muat.

Detik-detik jam dinding berbunyi seolah-olah mengiringi irama detak jantungku. Namun lambat laun detik-detik itu sudah tidak seirama dengan detak jantungku. Saya baru menyadari bahwa saya tidur sekamar dengan perempuan, dan perempuan itu adalah Bu Ani. Seseorang yang secara diam-diam aku kagumi kecantikannya. Selain cantik, kulitnya putih bersih, kira-kira tingginya 165 cm, cukup tinggi untuk ukuran orang Indonesia. Aku berbaring miring, sambil pura-pura memejamkan mata. Kelihatannya menutup mata, tapi sebenarnya saya memperhatikan sosok di sampingku ini. Nafasnya teratur naik turun, dan terlentang. Malam itu ia tidur dengan tenang, mulutnya mengatup, walaupun tidur tetap kelihatan cantik, memakai gaun tidur tipis motif bunga dominasi warna putih. Jantungku mulai berdetak lebih kencang lagi, sudah tidak seirama dengan detik-detik jam dinding, sampai menggoncang dadaku. Pikiranku menerawang kemana-mana, Baru kali ini aku mengalami hal yang begini, satu kamar dengan perempuan, cantik lagi, kendati aku tidak berani menjamahnya. Bisa dibilang kurang ajar bila aku lakukan hal itu. Pikiran dan perasaanku menggoncang-gonjang tubuhku, seperti orang kedinginan. Aku menjadi gelisah, ingin rasanya memeluknya. Waktu hampir menunjukkan jam sebelas, namun perasaan ini tidak redup tapi makin membara, bagaikan bara sekam yang tertiup angin.

Aku sungguh tidak kuasa menahan perasaan ini, yang malah sudah menjalar ke bagian tubuh lainnya. Tititku makin membesar, ini jelas nafsu yang bekerja. Aku sangat bernafsu dan tidak bisa mengendalikan diri. Pikiran waras dan logikaku menjadi kabur, aku mulai mendekat pada sosok ayu ini dan aku mulai menempelkan tubuhku ke tubuhnya. Semerbak wewangian dari tubuhnya, Bu Ani masih tertidur tenang, mungkin karena capai, dalam kegiatannya seharian tadi. Dengan gemetaran aku memegang pahanya mulus itu dan menyusup di balik gaun tidurnya, pelan-pelan. Seketika itu dadaku bergetar keras dan tititku pelan tapi pasti bergerak-gerak menandakan kesenangannya. Saya raba paha mulus itu, sampai gaunnya menyingkap dan hingga cedenya warna putih kelihatan. Sayang adegan ini tidak berlangsung lama, Bu Ani terbangun dan kaget.

"Apa-apan ini... kamu Riz..?!!!" katanya ketus, tapi tetap seperti berbisik, mungkin supaya tidak di dengar penghuni lain rumah ini. Saya bagai tersambar petir di hari yang cerah, perasaan yang indah, mengebu-gebu itu luluh dan hancur berantakan, menjadi takut dan kecewa serta malu bukan main.

"Maaf, Bu saya kilaf…." kataku serta merta.
"Saya pikir kamu tidak akan begitu. Kamu saya anggap sebagai keluarga sendiri, ternyata nakal...! Tadi kamu tidur meringkuk di karpet, saya suruh pindah ke sini, supaya tidak kedinginan, malah macam-macam..." dan masih banyak kata-kata yang diucapkan, namun tetap lirih, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan.

"Dengan ketulusan, maafkan aku Bu..." kataku menghiba.

Suasana hening, tapi hatiku tetap gaduh, antara menyesal, takut dan malu. Suasana yang tadi indah menjadi suram dan kusam. Aku melangkah gontai duduk terpaku di kursi sebelah ranjang, percuma aku tidur, pasti tidak akan bisa tidur. Aku menjadi setengah heran mengapa dia menyuruh saya tidur di ranjangnya, bukankah dia tahu aku laki-laki dan dia perempuan? Aku akan keluar, tapi menunggu kalau diusir atau bila dia memberi aku maaf.
Sekitar seperempat jam aku terpaku dengan sesal, seperti tiada berguna kehadiranku di sini, Bu Ani menatapku dan berkata:
"Riz, sudahlah Ibu maafkan kau..." suaranya merendah.
Aku langsung menghampirinya bersimpuh di lantai pinggir ranjang dekat dia berbaring, sambil mencium tangannya berkali-kali.
"Terima kasih sekali Bu, sekali lagi maafkan aku."
"Sudah ibu maafkan kamu, sekarang tidurlah" katanya melegakan aku, seperti sejuta kesejukan menimpaku.
"Tadi saya kaget sekali, secara reflek saya marah, ternyata kamu. Saya kira kamu tidak tahu masalah orang dewasa. Sekarang aku sadar kamu sudah dewasa, temanmu Jasmine sudah menikah..."
"Ya Bu, tadi saya kilaf, saya tidak kuat melihat pemandangan tadi" kataku
"Sudahlah jangan diperpanjang, maafkan aku juga. Kamu mendekat sini supaya suara kita tidak kedengaran yang lain" katanya sambil tersenyum.
Saya beringsut maju mendekat Bu Ani, demikian juga dia mendekat.
Kami berdua tidak jadi tidur, kami ngobrol sambil berbaring miring berhadap-hadapan. Sesekali dia mengusap keningku, seperti seorang ibu menyayang anaknya.

Tanpa saya diketahui entah dari mana datangnya, tiba-tiba gairahku bangkit kembali, seperti tadi jantungku berdetak lebih kencang, sampai Bu Ani mendengar.
"Kamu sakit ya...?" Katanya
"Enggak Bu, enggak tahu tadi juga begini, sampai Ibu terbangun" kataku
Perempuan cantik itu beringsut mendekatkan tubuhnya ke arahku, kemudian meletakkan tangannya di atas dadaku, yang bergejolak itu. Dia tersenyum, lalu kaki kanannya ditimpakan di atas kakiku.
"Sudah tenang saja" katanya
"Ya Bu" kataku menurut
Karena situasi dan kondisi badanku persis seperti tadi, dadaku bergoncang cepat dan tititku ikut bergerak-gerak lalu aku memberanikan diri merangsek ke depan, mendekat ke arah tubuh bu Ani.
"Maaf Bu, aku ingin mendekat" kataku sambil merangsek ke arahnya. Diapun juga bergerak mendekatku. Lalu memeluk aku erat sekali, sambil menciumi pipiku. Keberanianku bangkit lagi dan menyambutnya dengan kecupan bibir.
"Sudahlah Riz, lupakan peristiwa tadi. Kita mulai lembaran baru"
"Lalu Rizky harus gimana Bu?" kataku pura-pura bodoh.
"Perasaanku sama dengan perasaanmu sekarang ini. Aku juga menyukai kamu. Kamu menyenangkan dan ganteng"
"Ya Bu, saya juga menyukai Ibu, Ibu cantik sekali dan baik hati" rayuku.

Kami berdua mulai larut dalam permainan yang membara, saling melumat bibir dan meraba. Kami berdua bergumul mencari dan menelusuri celah-celah kenikmatan. Mulai dari sudut bibir, hidung mata dan leher. Sementara tanganku kembali menyusup gaunnya, perasaanku sama seperti tadi.
"Maaf Bu.." kataku bergetar disambut dengan anggukan.
Laju tanganku yang merayap ke paha mulus itu, membuat getaran-getaran di setiap sel-sel tubuhku. Demikian pula tangan halus Bu Ani menyusup ke dalam kaosku dan nafas orang cantik ini mulai tidak beraturan. Posisiku tidur terlentang, sementara ia menindih aku, lantas dia bangun, kedua lututnya dilipat, menjepit perutku, seperti duduk berlutut di atas perutku. Kemudian dia membuka sendiri gaun tidurnya, hingga kelihatan pemandangan yang indah, susunya sangat menakjubkan yang tentu saja membangkitkan gairahku menyala-nyala. Ternyata dia tidak memakai beha. Secara naluri kelelakianku aku memegang kedua susunya dan kuremas lembut. Kedua puntingnya yang berwarna coklat kemerah-merahan aku permainkan, ia mendesah lembut. Menindih aku kembali dan berbisik:
"Kita mandi dulu yuk... biar lebih fresh"
"Malam-malam begini Bu..?"
"Ya, kita mandi cepat, aja. Ada air hangat kok.."
Aku kemudian bangkit dan memegang cedenyanya, kataku:
"Ini aku buka ya..." pintaku, dia mengangguk
Cedenya berwarna putih dan ku tarik ke bawah. Demikian juga Bu Ani yang sudah telanjang bulat itu membuka kaosku dan celanaku. Kami berdua telanjang bulat dan berangkulan menuju kamar mandi, yang ada di kamar itu juga. Perempuan berusia 41 tahun itu tubuhnya sangat indah, putih dan mulus sekali. Bentuk tubuhnya juga indah, benar-benar body perfect.

Di bawah guyuran air shower, kami berangkulan membasahi diri. Hanya rambutnya yang tidak dibasahi. Dia pertama yang menggosok tubuhku dengan sabun, mulai dari leher, bahu, seluruh tubuh dan kaki, tidak ketinggalan selakanganku dan tititku dikocok-kocok lembut dengan sabun. Rasanya enak sekali.

"Tititmu besar sekali Riz..." katanya mengomentarinya. Aku tersenyum bangga. Bersamaan dengan itu aku juga menyabun mulai lehernya yang jenjang itu, bahu, kemudian lengan dan tubuhnya. Saya sangat senang membelai kedua susunya. Susunya montok dan kenyal itu saya sabun sambil meremas lembut. Bentuk pinggulnya sangat menaikkan selera kelelakianku dan sangat mengundang nafsuku, kemudian aku menggosok selakangannya dengan sabun. Busa berbuih banyak di selakangannya, jemariku menyentuh bibir V-nya dan klitorisnya, dia mengerang lembut. Kakinya yang terakhir aku sabun. Setelah bilas dengan kucuran shower dan melap dengan handuk, kami meninggalkan kamar mandi menuju tempat tidur. Tangan halus dan lembut itu memegang tititku dengan gemasnya, sementara aku merangkul bahunya.

Di tempat tidur yang besar itu kami kembali bergumul, saling mencari kenikmatan demi kenikmatan. Aku tidur terlentang dia menindihku kembali, naik ke atas, titit ku yang mengembang maksimal itu, ditaruh di sela-sela payudaranya dan digesek-gesekkan. Lalu melorot sedikit dan ujung lidahnya menari-nari di atas kepala senjataku dan kemudian dikulum-kulum. Tak tahan, aku bergelincangan, aku tarik alat vitalku itu, tapi dia menahan dengan kuat dan tetap mengulumnya. Dikocok-kocok lembut kemudian dihisap-hisap lagi. Rasanya nikmat luar biasa, aku seperti melayang-layang di angkasa luas. Kemudian dia bergerak maju, berciuman hebat sambil tangannya membelai-belai tititku. Kami beralih posisi, dan wajahku kusapukan pada kedua buahdadanya, semua sisi-sisinya aku telusuri, kadang aku benamkan pada sela-sela payudaranya aku sapukan, rasanya kenyal, halus dan menyenangkan. Sementara tanganku menyentuh V-nya yang sudah basah kuyup itu. Jari telunjukku masuk ke lobang berwarna pink itu dan menari-nari di sana. Kemudian ibu jari dan telunjukku memilin-pilin lembut klitorisnya. Dia mendesah-desah lembut dan menambah pesonanya. Lantas ujung lidahku menari-nari pada klitorisnya dan menyedot-sedot dengan lembut pada daging kecil yang berwarna pink itu, senada dengan warna lidahku. Bu Ani bergelincangan hebat sambil kakinya bergerak kesana-kemari, mengacak-acak seprainya dan mendesah sejadi-jadinya. Akhirnya "Ahhhh...." rupanya dia orgasme.

Jam dinding menunjuk waktu hampir jam 00.00, Bu Ani tidur terlentang, nafasnya mulai teratur setelah orgasme, kubuka pahanya lebar-lebar, aku menindih tubuhnya dan menembakkan senjataku pada tempik (vagina)-nya. Kusodok dan kutekan beberapa kali, tapi tak masuk-masuk, padahal pahanya sudah dibuka, hanya kena basah cairan v-nya rasanya geli diujung penis. Kemudian tangannya memegang tititku dan menuntunnya ke arah kewanitaannya. Kutekan pelan, agak sesak: Bless... masuklah tititku, disambung dengan desisan suaranya "Ahhhh...." oleh yang punya lobang itu. Saat masuk itu rasanya nikmat luar biasa, sepertinya aku merasakan kenikmatan tiada tara yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya di dunia ini. Nikmat abiz! Mungkin karena aku baru merasakan hangatnya seorang perempuan itu. Gerakanku naik turun, keluar masuk dan kadang berputar, yang jelas membawa kenikmatan tinggi. Beberapa saat kemudian kami berguling, kini pemilik bibir indah itu beranjak di atas tubuhku. Tititku yang seperti kayu itu makin masuk menghujam kuat dalam lubang kenikmatannya. Kemudian dia menekan lembut yang membawa nikmat luar biasa. Pinggul indah itu mulai digerakkan berputar dan meliuk-liuk serta naik turun, membawa efek nikmat sekali. Permainan ini benar-benar sensasi sepanjang sejarah hidupku. Perempuan berkulit bersih itu terus menggoyangkan pinggulnya, saya makin menekan kuat kedua pantatnya. Gerakannya kuat, sampai menggoncang ranjangnya. Di sela-sela itu dia menyodorkan punting susunya, katanya:
"Susuku emut Riz.." pintanya terengah-engah, di tengah kesibukannya itu.
"Ya, siap..."

Ritmenya mulai tidak beraturan bergerak cepat, seperti sopir angkutan yang mengejar setoran saja. Berputar, naik turun, keluar masuk dan makin keras lagi kemudian "Ah….., aku keluar lagi Rizzz" sejenak merebahkan diri di atas tubuhku, kembali menggerakkan pinggulnya yang saya tekan kuat. Lagi-lagi, "Ah...."
"Keluar lagi Bu....?" tanyaku.
"He’em" jawabnya terengah-engah pada orgasmenya yang ketiga. Rasanya dia benar-benar meletakkan berat tubuhnya padaku, dia terkapar lemas. Menggoyangkan pantatnya sedikit dan pelan.

Pelan-pelan aku memutar tubuhnya dan sekarang dia di bawahku. Aku mulai menggenjot tubuh molek itu, seperti orang memompa. Saya gemas sekali. Makin lama makin kuat sampai tubuhnya bergoncang-goncang.
"Jangan keras-keras, slow aja, nanti kamu cepat keluar..." bisiknya
"Ya Bu, maaf" kataku sambil mengurangi gerakanku dan meremas susunya.

Saya memusatkan pikiran dan perasanku, saat menyetubuhi Bu Ani, saya menikmati tubuhnya dengan seksama, pelan dan agak santai, bahkan kadang-kadang tidak bergerak. Sesekali memutar pinggulku dan menghujamkan ke dalam, diapun menyambut dengan mengangkat pinggulnya. Gerakan kami bersilang, kalau saya memutar ke kiri, dia bergerak ke kanan, kalau aku menekan ke bawah, dia ke atas, selalu mengambil gerakan berlawanan, sehingga menimbulkan efek nikmat. Dan itu kami lakukan berulang-ulang. Kami benar benar menyatu. Bibir kami menyatu, tangan kami menyatu, kaki saling melilit dan alat seks kami tentu saja, yang menjadi pusat semua kegiatan yang sangat menghebohkan ini. V-nya terasa ngenghisap-hisap lembut. Hening sejenak;
"Ini seperti malam pertama beneran, ya Bu"
"He em…",
"Seperti di kamar sebelah, jadi dua malam pertama"
"Tititmu besar sekali Riz, sampai rasanya ketat..." dia mengalihkan pembicaraan
"Tapi enak kan...?"
"Ya itulah..."
"Sudah berapa lama Ibu tidak beginian?"
"Ya, sejak papanya Jasmine tidak ada, tiga tahunan..."

Kembali aku menggoyang tubuh sintal ini, dan menggerakkannya. Seperti ada dorongan kuat yang menekan dan menghentak kuat. Dorongan dan hentakan itu semakin liar, pingin rasanya senjata ini menghujam lebih dalam lagi dan mengebor lebih keras lagi. Saya benar-benar mengeksploitasi v-nya. Nafaskupun semakin berlari kencang, mengikuti irama hasrat dan nafsu yang semakin tinggi. Gerakankupun semakin bersemangat, aku tidak perduli peringatan Bu Ani tadi. Supaya 'tidak keras-keras' Saya merasa cukup lama dorongan ini tertahan. Hampir setengah jam aku menaiki Bu Ani dan dorongan ini datang menyeruak begitu saja. Tubuh Bu Ani bergonjang-gonjang hebat, sambil menahan hasratnya juga dan nafasnya terengah-engah. Tanpa sadar kedua tanganku mencengkeram kedua payudaranya kuat-kuat.

"Ahhhh... Rizzz.... essss.... ahhhh..."
Aku tidak memperdulikan suaranya lagi, aku terpaksa mengikuti irama yang keras ini, seperti kendaraan yang naik tanjakan terjal. Dan dorongan itu benar-benar tiba, seperti lari sprint cepat sekali, ditandai dengan semprotan spermaku, memancar dengan dahyatnya, membasahi seluruh bagian-bagian dan relung-relung tempik Bu Ani yang konon sudah tiga tahun lebih tidak terpakai itu.

"Ahhh... keluar aku Bu" kataku sambil mencepit bibirnya dengan bibirku, dan dia mencengkeram punggungku dengan kuatnya.
"Aku juga.... sayang...." desahnya.
Kami berdua menggelepar-gelepar, seperti ikan di daratan yang tiada berair itu, imbas dari tenaga perkasa keluar.

Benar-benar menguras tenaga tapi luar biasa nikmatnya, nafasku berjalan tidak beraturan. Memang aku pernah mengeluarkan air mani seperti ini, tapi dalam mimpi basah dan onani. Tapi malam itu benar-benar dahsyat. Baru sekitar lima menit kemudian menjadi normal. Tiba-tiba Bu Ani yang masih saya naiki dan tititku masih menghujam pada V-nya, menggerakkan pinggulnya di bawah himpitanku. Dan lagi, serrrr.... dia keluar lagi.

Seperempat jam kemudian aku baru mencabut tititku yang memang sudah tidak setengang lagi tadi, habis melaksanakan kerja keras dalam mengarungi lautan libido dan badai birahi yang menghentakkan bersama Bu Ani. Kami berbaring bersebelahan, sesekali tangannya yang lembut itu membelai-belai dadaku yang bidang itu.

"Kamu perkasa sekali Riz. Dan malam ini rasanya malam yang hebat"
"Makasih Bu. Apakah dulu Ibu, nggak pernah rasakan seperti ini" tanyaku dan dia menggelengkan kepala.
"Dulu papanya Jasmine biasa-bisa saja dan to the point. Kamu kok pinter belajar dari mana Riz. Apa sebelumnya kamu suka beginian?" bisiknya.
"Nggak Bu, Ibulah wanita pertama saya ajak main. Saya sering lihat film gituan, Bu"
"Tu, kan... anak muda jaman sekarang... Lantas kamu praktikan, terhadap aku?"
Aku tersenyum sambil mengangguk.
"Tadi keluar berapa kali Bu?"
"Empat." jawabnya sambil tersenyum.

Sesudah nafasku teratur, aku bangun, mencari tisu, tapi tak kulihat. Lalu aku mengambil cedenya Bu Ani dan melapkan pada tititku yang bergelepotan cairan. Antara cairan ku dengan cairan Bu Ani dan melap pula selakangan Bu Ani yang penuh sampai meleleh keluar cairan putih kental, air maniku, cedenya sampai basah kuyup.

Malam itu saya lewati bersama Bu Ani dengan mengarungi lautan nafsu dan menantang badai birahi. Aku mencapai puncak kepuasan sampai empat kali, dan perempuan cantik itu mengaku berkali-kali. Ronde pertama saja tadi dia mengaku empat kali, belum pada tiga ronde berikutnya. Menjelang subuh saya kembali meringkuk (menurut istilah Bu Ani) di karpet depan teve, semalaman nyaris tidak tidur. Aku terbangun kembali jam 6 pagi ketika ada yang pegang tititku, ternyata Bu Ani, bertelut di samping ku. Suasana ruangan masih sepi, hanya terdengar dentingnya perabot dapur dari dapur, rupanya Parti sudah bangun. Mereka yang lain sudah pada bangun, suara mereka mulai berguman dari kamar-kamar yang lain, hanya kamar pengantin kak Ryan dan Jasmine yang masih terkunci rapat.
"Teruskan tidur mu, enggak apa-apa" katanya sambil beranjak berjalan menuju dapur.

Siang itu udara panas, enam hari setelah malam pertama itu, saya mengantar pasangan manten baru kak Ryan dan Jasmine ke bandara untuk bulan madu ke Bali.
"Riz..., kalau enggak keberatan, kamu tidur di rumah, temeni mama. Saya sudah bilang mama" kata Jasmine kepada saya.
"Ya mBak siap" jawabku, disambut dengan senyuman. Pucuk dicinta ulam tiba, peribahasa mengatakan demikian, pikirku.
Dari bandara saya meluncur ke kantor Bu Ani, dia mengajak makan, siang itu. Sesampai di kantor saya ketemu sekretarisnya. Tak lama kemudian saya dipersilakan masuk ruangan, setelah diminta menunggu sebentar karena baru ada tamu.

Masuk ruangan yang dihuni hanya Bu Ani seorang itu, terasa fresh apalagi disambut dengan senyum yang punya sejuta arti itu. Saya cium pipi wanita ayu itu, selang beberapa menit kami keluar. Acara makan siang kami percepat, waktu menunjukkan pukul sebelas, aku ajak dia ke rumah kak Ryan yang kini aku tempati seorang diri. Rumah ini terletak di perbukitan yang di beberapa bagian tetap ada tamannya dan pohon besarnya sebagai penyejuk.

"Suasanya indah banyak taman ya Riz..."
"Tapi lebih indah dan cantik yang disampingku."
"Merayuuu..."

Kami berdua masuk rumah, setelah memarkir modil di garasi. Semua pintu akses keluar saya tutup rapat. Saya menggandeng tangan bu Ani, berhenti di ruang tengah kami berciuman lembut sebagai pemanasan. Bibir kami saling melumat dan lidah kami saling berlilitan menari menikmati suasana sejuk ruang berAC itu. Bu Ani memakai uniform kantornya warna coklat muda, dan kain lainnya, menjadi rapat. Seragam ini persis seperti yang dipakai saat aku ketemu pertama kali di rumahnya, ketika aku menyambut dan memperkenalkan diri dulu.

"Tanpa terasa sudah hampir seminggu kita tidak kumpul, seperti malam itu ya Bu" kataku dia tersenyum. Aku sambil membuka kancing bajunya satu-satu. Kemudian membuka relisting celana panjangnya. Kini perempuan bertubuh montok dan menggiurkan itu hanya memakai beha dan cede dengan warna krem yang aku buka sekalian, sehingga dalam waktu yang tidak lama dia sudah telanjang bulat. Rupanya dia sudah tahu apa yang akan saya lakukan terhadapnya di rumah ini. Terlihat area V-nya tampak bersih tanpa rambut termasuk punyaku, karena beberapa hari yang lalu kami berdua sepakat saling mencukurnya bersih. Sementara itu tangannya juga sibuk membuka kaos dan celana panjangku dan sekalian cedeku. Kami mengulang permainan yang menghebohkan seperti di malam pertama di rumahnya. Satu jam lebih kami lakukan, kami berdua tergeletak di ranjang sambil mengatur nafas masing-masing. Mengingat dia harus kembali ke kantor, siang itu aku hanya menaiki sekali. Kemudian dia bangun membersihkan diri di kamar mandi, lalu memungut cedenya. Selama kak Ryan dan Jasmine honey moon di Bali sepekan, kami melakukan juga. Di rumah kak Ryan siang itu, kemudian malam harinya di rumah bu Ani. Setiap malam selama sepekan kami tidur kelonan di kamarnya tanpa diketahui Parti, karena tahunya dia, aku tidur di kamar lain.

"Ketat sekali ya Bu, milik Ibu sempit sekali" kataku ketika aku memasukkan pada v-nya.
"Milikmu yang kelewat gede... makanya nggak bunyi cepok-cepok, saat kau genjot" bisik perempuan yang rajin fitness itu.
"Betapa nikmat sekali..." kataku

Di pekan itu pula, di suatu hari libur diapun mengajak mengunjungi di sebuah desa di dekat kota, yang masih ada hamparan sawah dan gemericik air. Saya boncengkan sepeda motor. Di bawah pohon kami berdua melihat pemandangan indah itu. Kemudian hari berganti bulan, bulan berganti tahun kami mengarungi samudra asmara, dikala situasi memungkinkan. Di rumah kak Ryan, di hotel dan yang paling sering di rumah Bu Ani.

Kiriman: aliefbada[at]yahoo[dot]com

Bosku Yang Cantik

Reaksi: 
Sudah dua tahun aku bekerja di perusahaan swasta ini. Aku bersyukur, karena prestasiku, di usia yang ke 25 ini aku sudah mendapat posisi penyelia. Atasanku seorang wanita berusia 42 tahun. Walaupun cantik, tapi banyak karyawan yang tidak menyukainya karena selain keras, sombong dan terkadang suka cuek. Namun sebagai bawahannya langsung aku cukup mengerti beban posisi yang harus dipikulnya sebagai pemimpin perusahaan. Kalau karyawan lain ketakutan dipanggil menghadap sama Bu Melly, aku malah selalu berharap dipanggil. Bahkan sering aku mencari-cari alasan untuk menghadap keruangan pribadinya.

Sebagai mantan pragawati tubuh Bu Melly sangatlah bagus diusia kepala empat ini. Wajahnya yang cantik tanpa ada garis-garis ketuaan menjAdikannya tak kalah dengan anak muda. Saking keseringan aku mengahadap keruangannya, aku mulai menangkap ada nada-nada persahabatan terlontar dari mulut dan gerak-geriknya. Tak jarang kalo aku baru masuk ruangannya Bu Melly langsung memuji penampilanku. Aku bangga juga mulai bisa menarik perhatian. Mudah-mudahan bisa berpengaruh di gaji hahaha nyari muka nih.

Sampai suatu ketika, lagi-lagi ketika aku dipanggil mengahadap, kulihat raut muka Bu Melly tegang dan kusut. Aku memberanikan diri untuk peduli,
"Ibu kok hari ini kelihatan kusut? ada masalah?", sapaku sembari menuju kursi didepan mejanya.
"Ia nih Ndy, aku lagi stres, udah urusan kantor banyak, dirumah mesti berantem sama suaminya kusut deh", jawabnya ramah, sudut bibirnya terlihat sedikit tersenyum.
"Justru aku manggil kamu karena aku lagi kesel. Kenapa ya kalau lagi kesel trus ngeliat kamu aku jadi tenang", tambahnya menatapku dalam.
Aku terhenyak diam, terpaku. Masak sih Bu Melly bilang begitu? Batinku.
"Andy, ditanya kok malah bengong", Bu Melly menyenggol lenganku.
"Eeehh nggak, abisnya kaget dengan omongan Ibu kayak tadi. Aku kaget dibilang bisa nenangin seorang wanita cantik", balasku gagap.
"Ndy nanti temenin aku makan siang di Hotel (***) ya.. Kita bicarain soal promosi kamu. Tapi kita jangan pergi bareng , nggak enak sama teman kantor. kamu duluan aja, kita ketemu disana", kata Bu Melly.
Aku semakin tergagap, tidak menyangka akan diajak seperti ini.
"Baik Bu", jawabku sambil keluar dari ruangannya.

Setelah membereskan file-file, pas jam makan siang aku langsung menuju hotel tempat janji makan siang. Dalam mobilku aku coba menyimpulkan promosi jabatan apa yang akan Bu Melly berikan. Seneng sih, tapi juga penuh tanda tanya. Kenapa harus makan siang di hotel? Terbersit dipikiranku, mungkin Bu Melly butuh teman makan, teman bicara atau mudah-mudaha teman tidur.. upss mana mungkin Bu Melly mau tidur dengan aku. Dia itu kan kelas atas sementara aku karyawan biasa. Aku kesampingkan pikiran kotor.

Sekitar setengah jam aku menungu di lobby hotel tiba-tiba seorang bellboy menghampiriku. Setelah memastikan namaku dia mempersilahkanku menuju kamar 809, katanya Bu Melly menunggu di kamar itu. Aku menurut aja melangkah ke lift yang membawaku ke kamar itu. Ketika kutekan bel dengan perasaan berkecamuk penuh tanda tanya berdebar menunggu sampai pintu dibukain dan Bu Melly tersenyum manis dari balik pintu.

"Maaf ya Ndy aku berobah pikiran dengan mengajakmu makan di kamar. Mari.. kita ngobrol-ngobrol kamu mau pesen makanan apa?", kata Bu Melly sambil menarik tangan membawaku ke kursi. Aku masih gugup.
"Nggak usah gugup gitu dong", ujar Bu Melly melihat tingkahku.
"Aku sebetulnya nggak percaya dengan semua ini .aku nggak nyangka bisa makan siang sana Ibu seperti ini. Siapa sih yang nggak bangga diundang makan oleh wanita secantik Ibu?", ditengah kegugupanku aku masih sempat menyempilkan jurus-jurus rayuan. Aku tau pasti pujian kecil bisa membangkitkan kebanggan.
"Ahh kamu Ndy bisa aja, emangnya aku masih cantik", jawab Bu Melly dengan pipi memerah. Ihh persis anak ABG yang lagi dipuji.
"Iya Bu, sejujurnya aku selama ini memipikan untuk bisa berdekatan dan berduan dengan Ibu, makanya aku sering nyari alasan masuk keruangan Ibu", kataku polos.
"Aku sudah menduga semua itu soalnya aku perhatikan kamu sering nyari-nyari alasan menghadap aku. Aku tau itu. Bahkan kamu sering curi-curi pandang menatapku kan?", ditembak seperti itu aku jadi malu juga.
Memang aku sering menatap Bu Melly disetiap kesempatan, apa lagi kalau sedang rapat kantor. Rupanya tingkahku itu diperhatikannya.

Kami berpandangan lama. Lama kami berhadapan, aku di tempat duduk sedangkan Bu Melly dibibir tempat tidur. Dari wajahnya terlihat kalau wanita ini sedang kesepian, raut mukanya menandakan kegairahan. Perlahan dia berdiri dan menghampiriku. Masih tetap berpandangan, wajahnya semakin dekat.. dekat.. aku diam aja dan hup.bibirnya menyentuh bibirku. Kutepis rasa gugup dan segera membalas ciumannya. Bu Melly sebentar menarik bibirnya dan menyeka lipstik merahnya dengan tisu. Lalu tanpa dikomando lagi kami sudah berpagutan.

"Pesen makannya nanti aja ya Ndy", katanya disela ciuman yang semakin panas.
Wanita cantik betinggi 165 ini duduk dipangkuanku. Sedikit aku tersadar dan bangga karena wanita ini seorang boss ku, duduk dipangkuanku. Tangan kirinya melingkar dileherku sementara tangan kana memegang kepalaku. Ciumannya semakin dalam, aku lantas mengeluarkan jurus-jurus ciuman yang kutau selama ini. Kupilin dan kuhisap lidahnya dengan lidahku. Sesekali ciumanku menggerayang leher dan belakang telinganya. Bu Melly melolong kegelian.
"Ndy kamu hebat banget ciumannya, aku nggak pernah dicium seperti ini sama suamiku, bahkan akhir-akhir ini dia cuek dan nggak mau menyentuhku", cerocos Bu melly curhat.
Aku berpikir, bego banget suaminya tidak menyentuh wanita secantik Bu Melly. Tapi mungkin itulah kehidupan suami istri yang lama-lama bosan, pikirku.

Bu Melly menarik tangaku. Kutau itu isyarat mengajak pindah ke ranjang. Namun aku mencegahnya dengan memeluknya saat berdiri. Kucium lagi berulang-ulang, tangaku mulai aktif meraba buah dadanya. Bu melly menggelinjang panas. Blasernya kulempar ke kursi, kemeja putihnya kubuka perlahan lalu celana panjangnya kuloloskan. Bu Melly hanya terdiam mengikuti sensasi yang kuberikan. Wow, aku tersedak melihat pemandangan didepanku. Kulitnya putih bersih, pantatnya berisi, bodynya kencang dan ramping. Celana dalam merah jambu sepadan warna dengan BH yang menutupi setangkup buah dada yang walaupun tidak besar tapi sangat menggairahkan.
"Ibu bener-bener wanita tercantik yang pernah kulihat", gumamku.

Bu melly kemudian mengikuti aksiku tadi dengan mulai mencopot pakaian yang kukenakan. Namun dia lebih garang lagi karena pakaianku tanpa bersisa, polos. Mr. Happy yang sedari tadi tegang kini seakan menunjukkan kehebatannya dengan berdiri tegak menantang Bu Melly.
"Kamu ganteng Ndy", katanya seraya tanganya meraup kemaluanku dan ahh bibir mungilnya sudah mengulum.
Oh nikmatnya. Sentuhan bibir dan sapuan lidahnya diujung Mr.Happy ku bener-bener bikin sensasi dan membuat nafsu meninggi.

Aku nggak tahan untuk berdiam diri menerima sensasi saja. Kudorong tubuhnya keranjang, kuloloskan celana dalam dan BH-nya. Sambil masih tetap menikmati jilatan Bu Melly, aku meraih dua bukit kembar miliknya dan kuremas-remas. Tanganku merayap keselangkangannya. Jari tengahku menyentuh itilnya dan mulai mengelus, basah. Bu Melly terhentak. Sesekali jari kumasukkan kedalam vaginanya. Berusaha membuat sensasi dengan menyentuh G-spot-nya.

Atas inisiatifku kami bertukar posisi, gaya 69. Jilatan lidahnya semakin sensasional dengan menulur hingga ke pangkal kemaluanku. Dua buah bijiku diseruputnya Bener-bener enak. Gantian aku merangkai kenikmatan buat Bu Melly, kusibakkan rambut-rambut halus yang tertata rapi dan kusentuh labia mayoranya dengan ujung lidah. Dia menggeliat. Tanpa kuberi kesempatan untuk berpikir, kujilati semua susdut vaginanya, itilnya kugigit-gigit.
Bu melly menggelinjang tajam dan, "Ndy aku keluar lo.. nggak tahan", katanya disela rintihan.
Tubuhnya menegang dan tiba-tiba terhemmpas lemas, Bu Melly orgasme.

Aku bangga juga bisa membuat wanita cantik ini puas hanya dalam lima menit jilatan.
"Enak Ndy, aku bener-bener nafsu sama kamu. Dan ternyata kamu pintar muasin aku, makasih ya Ndy", ujarnya.
"Jangan terima kasih dulu Bu, soalnya ini belum apa-apa, nanti Andy kasi yang lebih dahsyat", sahutku.
Kulihat matanya berbinar-binar.
"Bener ya Ndy, puasin aku, sudah setahun aku nggak merasakan orgasme, suamiku sudah bosan kali sama aku", bisiknya agak merintih lirih.

Hanya berselang liam menit kugiring tubuh Bu melly duduk diatas pinggulku. Mr.Happy kumasukkan ke dalam vaginanya dan bless, lancar karena sudah basah. Tanpa dikomando Bu Melly sudah bergerak naik turun. Posisi ini membuat ku bernafsu karena aku bisa menatap tubuh indah putih mulus dengan wajah yang cantik, sepuasnya. Lama kami bereksplorasi saling merangsang. Terkadang aku mengambil posisi duduk dengan tetap Bu melly dipangkuanku. Kupeluk tubuhnya kucium bibirnya.
"Ahh enak sekali Ndy", ntah sudah berapa kali kata-kata ini diucapkannya.

Mr.Happyku yang belum terpuaskan semakin bergejolak disasarannya. Aku lantas mengubah posisi dengan membaringkan tubuh Bu Melly dan aku berada diatas tubuh mulus. Sambil mencium bibir indahnya, kumasukkan Mr.Happy ke vaginanya. Pinggulku kuenjot naik turun. Kulihat Bu Melly merem-melek menahan kenikmatan. Pinggulnya juga mulai bereaksi dengan bergoyang melawan irama yang kuberikan. Lama kami dalam posisi itu dengan berbagai variasi, kadang kedua kakinya kuangkat tinggi, kadang hanya satu kaki yang kuangkat. Sesekali kusampirkan kakinya ke pundakku. Bu Melly hanya menurut dan menikmati apa yang kuberikan. Mulutnya mendesis-desis menahan nikmat.
Tiba-tiba Bu melly mengerang panjang dan "Ndy, aku mau keluar lagi, aku bener-bener nggak tahan", katanya sedikit berteriak.
"Aku juga mau keluar nih.. bareng yuk", ajakku.
Dan beberapa detik kemudian kami berdua melolong panjang "Ahh..".
Kurasakan spermaku menyemprot dalam sekali dan Bu Melly tersentak menerima muntahan lahar panas Mr. Happyku. Kami sama sama terkulai.
"Kamu hebat Ndy, bisa bikin aku orgasme dua kali dalam waktu dekat", katanya disela nafas yang tersengal.
Aku cuma bisa tersenyum bangga.
"Bu Melly nggak salah milih orang, aku hebat kan?" kataku berbangga yang dijawabnya dengan ciuman mesra.

Setelah mengaso sebentar Bu Melly kemudian menuju kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan shower. Dari luar kamar mandi yang pintunya nggak tertutup aku menadang tubuh semampai Bu melly. Tubuh indah seperti Bu Melly memang sangat aku idamkan. Aku yang punya kecenderungan sexual Udipus Comp-lex bener-bener menemukan jawaban dengan Bu Melly. Bosku ini bener-bener cantik, maklum mantan peragawati. Tubuhnya terawat tanpa cela. Aku sangat beruntung bisa menikmatinya, batinku.

Mr.Happyku tanpa dikomando kembali menegang melihat pemandangan indah itu. Perlahan aku bangun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Bu melly yang lagi merem menikmati siraman air dari shower kaget ketika kupeluk. Kami berpelukan dan berciuman lagi. Kuangkat pantatnya dan kududukkan di meja toalet. Kedua kakinya kuangkat setengah berjongkok lalu kembali kujilati vaginanya. Bu melly kembali melolong. Ada sekitar lima menit keberi dia kenikmatan sapuan lidahku lantas kuganti jilatanku dengan memasukkan Mr. Happyku. Posisiku berdiri tegak sedangkan Bu Melly tetap setengah berjongkok di atas meja. Kugenjot pantatku dengan irama yang pasti. Dengan posisi begini kami berdua bisa melihat jelas aktifitas keluarmasuknya Mr.Happy dalam vagina, dua-duanya memerah tanda nikmat.

Setelah puas dengan posisi itu kutuntun Bu Melly turun dan kubalikkan badannya. Tangannya menumpu di meja sementara badannya membungkuk. Posisi doggie style ini sangat kusukai karena dengan posisi ini aku ngerasa kalau vagina bisa menjepit punyaku dengan mantap. Ketika kujebloskan si Mr.Happy, uupps Bu Melly terpekik. Kupikir dia kesakitan, tapi ternyata tidak.
"Lanjutin Ndy, enak banget.. ohh.. kamu hebat sekali", bisiknya lirih.
Ada sekitar 20 menit dalam posisi kesukaanku ini dan aku nggak tahan lagi mau keluar.
"Bu.. aku keluar ya", kataku.
"Ayo sama-sama aku juga mau", balasnya disela erangan kenikmatannya.
Dan.. ohh aku lagi-lagi memuncratkan sperma kedalam vaginanya yang diikuti erangan puas dari Bu Melly. Aku memeluk kencang dari belakang, lama kami menikmati sensasi multi orgasme ini. Sangat indah karena posisi kami berpelukan juga menunjang. Kulihat dicermin kupeluk Bu Melly dari belakang dengan kedua tanganku memegang dua bukit kembarnya sementara tangannya merangkul leherku dan yang lebih indajh, aku belum mencopot si Mr. Happy.. ohh indahnya.

Selesai mandi bersama kamipun memesan makan. Selesai makan kami kembali kekantor dengan mobil sendiri-sendiri. Sore hari dikantor seperti tidak ada kejadian apa-apa. Sebelum jam pulang Bu Melly memanggilku lewat sekretarisnya. Duduk berhadapan sangat terasa kalau suasananya berobah, tidak seperti kemarin-kemarin. Sekarang beraroma cinta.
"Ndy, kamu mau kan kalau di kantor kita tetep bersikap wajar layaknya atasan sama bawahan ya. Tapi kalo diluar aku mau kamu bersikap seperti suamiku ya", katanya tersenyum manja.
"Baik Bu cantik", sahutku bergurau.
Sebelum keluar dari ruangannya kami masih sempat berciuman mesra.

Sejak itu aku resmi jadi suami simpanan bos ku. Tapi aku menikmati karena aku juga jatuh cinta dengan wanita cantik idaman hati ini. Sudah setahun hubungan kami berjalan tanpa dicurigai siapapun karena kami bisa menjaga jarak kalau di kantor.