Merokok bukanlah kebiasaan yang sehat, setiap orang tahu akan hal tersebut, bahkan bagi mereka yang merokok sekalipun. Namun tetap saja mereka yang sudah kecanduan rokok, sulit untuk meninggalkan kebiasaan buruk tersebut.
Di mana-mana, bahkan di angkutan umum sekalipun, jika perokok sudah ingin menghisap rokoknya, mereka akan melakukannya. Tidak terkecuali di tempat makan, seperti cafe, atau warung-warung makan, kita banyak menemukan mereka sedang asyik merokok.
Alasan mereka biasanya sangat sederhana, jika tidak merokok setelah makan, mulut akan terasa sebal dan asam. Namun tahukan Anda,apa yang terjadi pada tubuh, ketika Anda merokok setelah makan? Ini penjelasannya.
Tentu saja merokok setelah makan tidak pernah direkomendasikan, bahkan para ilmuwan dan dokter memperingatkan, betapa sangat berbahaya jika Anda merokok setelah makan.
Merokok dapat mengganggu sistem pencernaan di usus. Sistem pencernaan yang mempengaruhi seluruh tubuh, terganggu akibat nikotin yang terikat dalam oksigen, yang diedarkan di dalam darah. Karena nikotin ini lebih mudah diserap, sehingga oksigen yang dibutuhkan sistem pencernaan berkurang.
Akibat yang bisa ditimbulkan adalah bis amemicu terjadinya kanker usus dan kanker paru-paru. Walaupun dokter mengatakan lebih baik memberikan jeda selama 20 menit setelah makan, namun tetap saja, rokok itu sendiri tidak baik bagi tubuh.
Anda setuju bukan, apalagi di dalam kemasan rokok tertera, jika merokok dapat menggugurkan kandungan, meningkatkan serangan jantung, dan kanker.
Jadi mana yang Anda pilih? Sehat atau sakit?
Showing posts with label kanker. Show all posts
Showing posts with label kanker. Show all posts
Friday, November 13, 2015
Apa yang Terjadi Jika Setelah Makan Langsung Merokok?
Label:
kanker,
kesehataan,
merokok setelah makan,
penyakit,
rokok,
sakit
Friday, October 23, 2015
Penyakit Kanker yang Sering Menyerang Pria
Beberapa penyakit kanker yang sering menyerang pria misalnya saja kanker prostat, karena memang prialah yang diserang, selain kanker satu ini masih ada beberapa penyakit kanker yang sering menyerang kaum pria, waspadai jenis-jenis kanker yang banyak diderita pria ini dan ketahui cara menghindarinya.
Kanker Prostat
Seringkali tidak bergejala pada awalnya, namun pemeriksaan prostat secara teratur untuk mengetahui kadar PSA (prostate spesicif antigen) bisa membantu mendeteksi kanker ini sedini mungkin. Kabar baiknya, pertumbuhan kanker ini berjalan sangat pelan. Gejala seperti gangguan berkemih (sering buang air kecil, rasa tidak tuntas), biasanya merupakan gejala pembesaran prostat.
Kanker Paru
Kanker paru juga kerap tidak menunjukkan gejala awal, tetapi waspadai jika Anda menderita batuk yang tak kunjung sembuh dan sering disertai darah. Nyeri pada dada yang menetap dan tidak dipicu oleh gerakan tubuh juga sebaiknya diperiksakan ke dokter.
Kanker Kolorektal
Jangan pernah menganggap remeh adanya darah pada tinja meski hanya terjadi sekali. Hal itu bisa menjadi pertanda adanya polip prakanker. Pada kebanyakan kasus bahkan kanker kolorektal tidak memberikan gejala. Untuk mendiagnosa penyakit ini, dokter akan melakukan kolonoskopi.
Kanker Kandung Kemih
Kebanyakan kanker kandung kemih hanya mengenai bagian dinding sehingga jika ditemukan sejak stadium dini bisa disembuhkan. Waspadai gejala seperti darah di urin. Meski bukan kanker bisa juga itu merupakan gejala batu ginjal.
Kanker Limfoma
Beberapa gejala yang harus diwaspadai antara lain pembengkakan kelenjar di leher, ketiak atau selangkangan. Jangan abaikan pula penurunan berat badan lebih dari 1-2 bulan, serta rasa gatal tanpa ruam. Konon katanya almarhum Olga Syahputra meninggal karena kanker jenis ini.
Kanker Prostat
Seringkali tidak bergejala pada awalnya, namun pemeriksaan prostat secara teratur untuk mengetahui kadar PSA (prostate spesicif antigen) bisa membantu mendeteksi kanker ini sedini mungkin. Kabar baiknya, pertumbuhan kanker ini berjalan sangat pelan. Gejala seperti gangguan berkemih (sering buang air kecil, rasa tidak tuntas), biasanya merupakan gejala pembesaran prostat.
Kanker Paru
Kanker paru juga kerap tidak menunjukkan gejala awal, tetapi waspadai jika Anda menderita batuk yang tak kunjung sembuh dan sering disertai darah. Nyeri pada dada yang menetap dan tidak dipicu oleh gerakan tubuh juga sebaiknya diperiksakan ke dokter.
Kanker Kolorektal
Jangan pernah menganggap remeh adanya darah pada tinja meski hanya terjadi sekali. Hal itu bisa menjadi pertanda adanya polip prakanker. Pada kebanyakan kasus bahkan kanker kolorektal tidak memberikan gejala. Untuk mendiagnosa penyakit ini, dokter akan melakukan kolonoskopi.
Kanker Kandung Kemih
Kebanyakan kanker kandung kemih hanya mengenai bagian dinding sehingga jika ditemukan sejak stadium dini bisa disembuhkan. Waspadai gejala seperti darah di urin. Meski bukan kanker bisa juga itu merupakan gejala batu ginjal.
Kanker Limfoma
Beberapa gejala yang harus diwaspadai antara lain pembengkakan kelenjar di leher, ketiak atau selangkangan. Jangan abaikan pula penurunan berat badan lebih dari 1-2 bulan, serta rasa gatal tanpa ruam. Konon katanya almarhum Olga Syahputra meninggal karena kanker jenis ini.
Label:
kanker,
Kanker Kandung Kemih,
Kanker Kolorektal,
Kanker Limfoma,
Kanker Paru,
kanker pria,
Kanker Prostat,
penyakit,
saskit
Monday, October 5, 2015
Risiko Ini Intai Orang yang Bertato
Menggunakan tato untuk mengubah penampilan sah-sah saja dilakukan siapapun. Tapi sebelum memutuskan untuk memiliki tato, Anda juga harus mempertimbangkan risiko kesehatan yang mungkin mengintai.
Dr Marie Leger, seorang dermatolog di New York University Medical Center menguraikan lima risiko kesehatan yang mengintai para pengguna tato seperti dilansir dari laman Foxnews.
1. Infeksi
Kini menjamur tempat-tempat yang menyediakan jasa pembuatan tato. Padahal pembuatan tato yang tidak steril bisa memicu risiko penularan virus HIV dan hepatitis C. Infeks kedua virus ini dapat menyebabkan sirosis atau pengerasan hati hingga kanker.
Leger mengatakan bahwa penularan infeksi dapat berasal dari sumber yang berbeda, termasuk seniman tato hingga tinta yang dipakai.
Pada 2012, dilaporkan adanya wabah infeksi kulit di utara New York. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa infeksi berasal dari bakteri Mycobacterium Chelonae yang terdapat pada tinta tato warna abu-abu yang terkontaminasi. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan ruam yang menyakitkan selama berbulan-bulan.
2. Alergi
Pasien yang tidak mengalami reaksi alergi terhadap pembuatan tato pertama nantinya dapat mengembangkan alergi setelah mendapatkan tato kedua atau ketiga, kata Leger.
Ia menjelaskan bahwa ada seorang pasien yang memiliki dua tato. Tato pertama tidak membuatnya mengalami keluhan alergi apapun. Namun saat pembuatan tato kedua, bagian tubuh yang ditato menjadi merah hingga gatal.
Alergi karena tato biasanya diatasi dengan pemberian steroid topikal atau injeksi. Tapi pada kasus yang serius, alergi memungkinkan bagian yang ditato untuk mendapatkan pembedahan lokal.
3. Menyembunyikan Penyakit
Area tubuh yang ditato kerap menutupi permukaan kulit. Padahal beberapa jenis penyakit kulit bahkan kanker hanya bisa dideteksi dengan perubahan tekstur pada permukaan kulit.
Menghiasi kulit Anda dengan tato dapat menutupi masalah kesehatan, mencegah dari yang seharusnya dapat dideteksi dini.
Leger menjelaskan pada 2013 ada seorang lelaki yang terdeteksi kanker melanoma setelah menghapus tato di tubuhnya dengan laser. Tato dapat menyulitkan dokter kulit untuk melakukan deteksi kulit dan mendeteksi mol yang mungkin berpotensi menjadi kanker.
4. Terbakar sinar matahari
Melindungi kulit Anda dari sinar matahari tentu sangat penting, namun menurut Leger, tato dapat meningkatkan risiko terpapar sinar matahati. Bahkan bagi sebagian orang, paparan sinar matahari dapat menyebabkan tato menjadi kemerahan dan gatal.
Hal ini terjadi, kata Leger, karena kandungan kadmium pada tinta tato. Tinta warna kuning, hitam, merah, dan biru paling sering memicu kulit terbakar akibat sinar matahari.
5. Memicu luka bakar saat tes MRI
Sebuah laporan pada 2011 menemukan bahwa seorang lelaki dengan tato ditubuhnya mengalami luka bakar saat menjalani tes MRI. Luka bakar ini tepat berada di area tatonya. Leger menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena tinta tato mengandung oksida besi yang memancing arus listrik.
Dr Marie Leger, seorang dermatolog di New York University Medical Center menguraikan lima risiko kesehatan yang mengintai para pengguna tato seperti dilansir dari laman Foxnews.
1. Infeksi
Kini menjamur tempat-tempat yang menyediakan jasa pembuatan tato. Padahal pembuatan tato yang tidak steril bisa memicu risiko penularan virus HIV dan hepatitis C. Infeks kedua virus ini dapat menyebabkan sirosis atau pengerasan hati hingga kanker.
Leger mengatakan bahwa penularan infeksi dapat berasal dari sumber yang berbeda, termasuk seniman tato hingga tinta yang dipakai.
Pada 2012, dilaporkan adanya wabah infeksi kulit di utara New York. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa infeksi berasal dari bakteri Mycobacterium Chelonae yang terdapat pada tinta tato warna abu-abu yang terkontaminasi. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan ruam yang menyakitkan selama berbulan-bulan.
2. Alergi
Pasien yang tidak mengalami reaksi alergi terhadap pembuatan tato pertama nantinya dapat mengembangkan alergi setelah mendapatkan tato kedua atau ketiga, kata Leger.
Ia menjelaskan bahwa ada seorang pasien yang memiliki dua tato. Tato pertama tidak membuatnya mengalami keluhan alergi apapun. Namun saat pembuatan tato kedua, bagian tubuh yang ditato menjadi merah hingga gatal.
Alergi karena tato biasanya diatasi dengan pemberian steroid topikal atau injeksi. Tapi pada kasus yang serius, alergi memungkinkan bagian yang ditato untuk mendapatkan pembedahan lokal.
3. Menyembunyikan Penyakit
Area tubuh yang ditato kerap menutupi permukaan kulit. Padahal beberapa jenis penyakit kulit bahkan kanker hanya bisa dideteksi dengan perubahan tekstur pada permukaan kulit.
Menghiasi kulit Anda dengan tato dapat menutupi masalah kesehatan, mencegah dari yang seharusnya dapat dideteksi dini.
Leger menjelaskan pada 2013 ada seorang lelaki yang terdeteksi kanker melanoma setelah menghapus tato di tubuhnya dengan laser. Tato dapat menyulitkan dokter kulit untuk melakukan deteksi kulit dan mendeteksi mol yang mungkin berpotensi menjadi kanker.
4. Terbakar sinar matahari
Melindungi kulit Anda dari sinar matahari tentu sangat penting, namun menurut Leger, tato dapat meningkatkan risiko terpapar sinar matahati. Bahkan bagi sebagian orang, paparan sinar matahari dapat menyebabkan tato menjadi kemerahan dan gatal.
Hal ini terjadi, kata Leger, karena kandungan kadmium pada tinta tato. Tinta warna kuning, hitam, merah, dan biru paling sering memicu kulit terbakar akibat sinar matahari.
5. Memicu luka bakar saat tes MRI
Sebuah laporan pada 2011 menemukan bahwa seorang lelaki dengan tato ditubuhnya mengalami luka bakar saat menjalani tes MRI. Luka bakar ini tepat berada di area tatonya. Leger menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena tinta tato mengandung oksida besi yang memancing arus listrik.
Label:
;infeksi,
alergi,
kanker,
menyembunyikan penyakit,
resiko tatto,
tatto
Subscribe to:
Posts (Atom)


