Showing posts with label twitter. Show all posts
Showing posts with label twitter. Show all posts

Saturday, October 17, 2015

Twitter Pecat 336 Pegawai di Seluruh Dunia

Twitter, pada Selasa (13/10/2015), memutuskan untuk memecat 336 pegawainya, sekitar 8 persen dari seluruh tenaga kerjanya, di seluruh dunia. Pemecatan itu dinilai sebagai salah satu langkah awal Jack Dorsey, bos baru Twitter, untuk segera membawa keuntungan bagi media sosial tersebut.

Pemecatan itu dilakukan dua pekan setelah Dorsey, salah satu pendiri dan bekas CEO Twitter, kembali didaulat sebagai CEO media sosial tersebut. Dorsey diharapkan bisa mendorong pertambahan jumlah pengguna Twitter yang kalah cepat dibanding para pesaing dan mendatangkan keuntungan.

Pemangkasan jumlah pegawai bisa meningkatkan keuntungan, tetapi juga bisa memantik ketidakpastian akan masa depan dan ambisi Twitter untuk bertumbuh dan meraih semakin banyak pengguna di dunia.

"Pemecatan ini bisa menjadi tanda keputusasaan pada sebuah perusahaan yang diambang kehancuran," kata Richard Windsor, analis dari Edison Investment Research kepada Wall Street Journal, "Pemangkasan jumlah pegawai sering kali adalah reaksi dari perusahaan yang sudah tak menemukan jalan lain," lanjut Windsor.

Dalam dua tahun terakhir jumlah pegawai Twitter memang naik dua kali lipat, sebuah kebijakan yang tadinya diambil untuk memberi keuntungan pada perusahaan yang belum pernah mencatatkan surplus dalam sembilan tahun sejak didirikan.

Sejak Dorsey dan beberapa rekannya mendirikan Twitter, perusahaan itu sudah kehilangan hampir 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp27,2 triliun (1 dolar AS pada Rp13.618).

Dorsey sendiri mengatakan bahwa Twitter saat ini sering tak begitu mudah untuk digunakan dan memaksa pengguna untuk beralih ke WhatsApp atau Snapchat yang lebih mudah dipakai.

Twitter sendiri hingga pertengahan 2015 baru mempunyai sekitar 300 juta pengguna, ketinggalan jauh dari Instagram yang sudah mempunyai lebih dari 400 juta pengguna aktif.

Sunday, October 4, 2015

Saatnya Anda Minta Bayaran dari Facebook!
























Sebuah penelitian terbaru dari lembaga riset pasar eMarketer, menunjukkan bahwa lebih dari 20 persen keuntungan Facebook pada 2014 berasal dari para pengguna setianya. Riset itu menemukan bahwa setiap tahun Anda menyumbang 12,76 dolar AS kepada Facebook.

Dengan kata lain, Facebook mendapat Rp187.572 (1 dolar AS pada 14.700) setiap tahunnya dengan menjajakan Anda kepada pengiklan. Anda, disadari atau tidak, memang produk yang dijajakan Facebook pada pengiklan.

Hasil riset eMarketer, yang dikutip The Guardian pekan lalu, bahkan menunjukkan bahwa pada 2017 keuntungan yang Anda sumbangkan kepada Facebook akan naik menjadi 17.50 dolar AS atau sekitar Rp257.162 setiap tahun.

Hal yang sama berlaku pada Twitter. Setiap tahun Twitter meraup 7,75 dolar AS (sekitar Rp113.510) dari setiap penggunanya, naik dari 5,48 dolar AS (sekitar Rp80.000) pada 2014. Pada 2017, diperkirakan Twitter akan mendulang 12,56 dolar AS (sekitar Rp184.000) dari setiap pengguna yang dijajakannya kepada pengiklan.

Jadi jika Anda menggunakan kedua media sosial itu sekaligus, Anda bisa jumlahkan sendiri berapa uang yang Anda sumbangkan untuk kedua media sosial itu setiap tahunnya. Belum lagi jika Anda menggunakan media sosial lain seperti YouTube atau Instagram.

Perkembangan media sosial yang pesat, yang terbukti menjadi alat yang lebih efektif untuk menjangkau pasar, adalah salah satu faktor yang mendorong pengiklan membayar lebih besar kepada Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya.

Sekaratnya media cetak dan media penyiaran, mendorong pengiklan untuk mulai beralih ke media baru di internet. Tingginya permintaan diimbangi dengan baik oleh media sosial, yang memberikan pilihan menarik kepada pengiklan, karena media sosial memiliki informasi yang lebih banyak dan kaya tentang penggunanya, bahkan lebih rinci ketimbang layanan internet lainnya seperti misalnya situs berita online.

Selain itu, media sosial juga semakin kreatif menciptakan konten yang bisa digunakan untuk menyisipkan iklan. Misalnya saja video, yang kini sudah diadopsi oleh Facebook dan Twitter.

Menghadapi fakta ini, sejumlah pihak sudah sejak lama menyuarakan agar Facebook dan Twitter membayar atau membagikan keuntungannya kepada para pengguna setia, atau mungkin lebih tepat produk yang menjadi komoditas jualan mereka kepada pengiklan.

Jaron Lanier, seorang musisi dan pakar internet, sejak 2013 lalu sudah mendesak agar Facebook dan Google - yang dia sebut sebagai "organisasi mata-mata" - membayar penggunanya untuk setiap data dan informasi yang mereka diambil.