Showing posts with label Teror. Show all posts
Showing posts with label Teror. Show all posts

Friday, November 20, 2015

Teknologi Canggih, Teroris Makin Gigih






















Usai serangkaian serangan ISIS di Paris, yang mengakibatkan 129 orang tewas dan 300 lainnya luka-luka, membuat banyak pihak meyakini jika ISIS menggunakan koordinasi yang canggih untuk bisa merencanakan itu semua.
Namun, teknologi bagaimana dan apa yang digunakan masih menjadi tanda tanya hingga saat ini. Yang jelas, para ahli keamanan siber yakin jika ISIS menggunakan banyak platform teknologi untuk merencanakan teror yang terkoordinasi ke negara-negara yang dituju di seluruh dunia.
Salah satu yang paling meyakinkan adalah penggunaan platform komunikasi yang terenkripsi. Ini merupakan hal yang sangat mungkin digunakan, mengingat sangat sulit untuk melacak ataupun bekerja sama dengan pemilik platform karena tak adanya kunci pembuka enkripsi.
Tidak heran jika kemudian perdebatan mengenai enkripsi platform komunikasi kembali menggema. Di satu sisi, enkripsi komunikasi bisa mencegah tragedi seperti ini. Namun, di sisi lain akan mengganggu privasi pengguna dan melanggar netralitas internet.
Yang terbaru, mantan Direktur CIA, James Woolsey, menumpahkan kesalahan pada mantan kontraktor NASA yang juga menjadiwhistleblower, Edward Snowden. Dilansir melalui Arstechnica, Kamis, 19 November 2015, Woolsey menganggap Snowden telah membocorkan kepada publik, termasuk kepada teroris, cara-cara dan kemampuan mata-mata yang dimiliki badan intelijen Amerika dan dunia.
Tidak heran jika kini kemampuan komunikasi dan perencanaan yang dilakukan teroris sulit untuk dilacak oleh badan intelijen tersebut.
“Edward Snowden ‘memiliki darah di tangannya’.  Dia yang ‘membuka pintu’ bagi para teroris untuk mengetahui cara kerja badan intelijen dunia. Salah satu risiko yang ditimbulkan Snowden, Amerika dan Prancis tidak bisa melacak perencanaan teror dan menghentikan tragedi di Paris,” ujar Woolsey.
Namun, tuduhan ini sepertinya berlebihan. Sebab, penggunaan komunikasi yang terenkripsi sudah lama dilakukan oleh para teroris, tidak hanya ISIS. Kebanyakan mereka menggunakan berbagai macam kriptografi.
Misalnya pada 1990an, Al Qaeda diduga menggunakan berbagai macam bentuk enkripsi untuk menyembunyikan file untuk menyebar informasi di berbagai situs, termasuk penggunaan file terenkripsi yang dibawa melalui CD dan USB oleh para kurir.
Untuk membuka dokumen tersembunyi, mereka menggunakan steganografi, atau seni penyembunyian pesan ke dalam pesan lainnya yang dilakukan sedemikian rupa, sehingga orang lain tidak menyadari. Organisasi teroris itu biasanya meletakkan pesan tersembunyi pada video porno di situs, ketimbang harus menggunakan email.
Banyak Platform Menuju ISIS
Di dunia, banyak platform komunikasi terenkripsi yang kerap disukai teroris. Platform tersebut biasanya bersifat gratis dan mudah digunakan. Beberapa di antaranya seperti WhatsApp, Signal, RedPhone, Wickr, dan Telegram. Platform komunikasi ini mudah dienkripsi dan bisa digunakan tanpa identitas pengirim maupun pengguna. Namun, di antara sekian banyak platform, ISIS diketahui lebih suka menggunakan Telegram.
Telegram merupakan platform pesan singkat yang tidak menyimpan pesan sebagai arsip. Sifat pesan tidak kekal dan bisa berlalu begitu saja.
Platform buatan warga Rusia, Pavel Durov, memungkinkan adanya pembuatan "channel" yang bisa digunakan untuk mengirim pesan dan percakapan kelompok sampai lebih dari 200 orang. Pada Oktober lalu, Middle East Media Research Institute (MEMRI) melaporkan jika ISIS dan Al Qaeda telah menciptakan banyak channel di Telegram guna mengamankan komunikasi dan berbagi file secara aman.
“Mereka menggunakan Telegram untuk berbagi info, termasuk tutorial untuk merakit senapan, melancarkan serangan bersenjata, menghubungi penyerang untuk merencanakan target pembunuhan, dan teror di mana saja,” ujar periset dari MEMRI, M. Khayat.
Alex Kassirer, analis kontra terorisme Flashpoint, perusahaan intelijen swasta berbasis si New York, menuding ISIS memakai saluranbroadcast Telegram untuk menggelar rekrutmen, propaganda, inspirasi, sampai motivasi. Bahkan, menurut Direktur Bethesda, Rita Katz, layanan monitoring ekstremis di AS, ISIS disebutkan punya tiga sampai empat saluran di Telegram.
Beberapa saluran Telegram dikatakan menarik puluhan ribu pengikut. Selain memakai Telegram, kelompok ekstremis itu juga menggunakan Twitter untuk menyebarkan propagandanya. Sejak teror Paris, pengelola Telegram mengaku telah memblokir 78 saluran yang terkait dengan ISIS.
Saat ini, Telegram punya 60 juta pengguna dan untuk sebuah layanan enkripsi angka itu menunjukkan aplikasi tersebut sangat populer. Sebab, jumlah pengguna Telegram itu sama dengan total jumlah pengguna tiga layanan enkripsi yaitu Signal, Silent Circle, dan Wickr.
Selain Telegram, Menteri Dalam Negeri Belgia, Jan Jambon, mengungkap jika berkomunikasi melalui konsol PlayStation 4 (PS4) merupakan jalur yang aman bagi para teroris. Keyakinan ini muncul setelah sebuah PS4 ditemukan di rumah salah seorang tersangka teroris ISIS yang melakukan penyerangan.
Meski belum ada bukti otentik, banyak ahli keamanan yang yakin jika PS4 merupakan jalur komunikasi yang aman bagi teroris. Menurut ahli keamanan, jalur komunikasi PS4 susah dilacak karena pengiriman pesan bisa dilakukan dengan berbagai bentuk.
Pengiriman pesan bisa dilakukan melalui layanan online game atau berkomunikasi saat sedang memainkan game tertentu. Dari keseluruhan format, menurut ahli keamanan, sistem suara berbasis internet merupakan bentuk komunikasi yang disukai teroris ISIS. Mereka bisa melakukan pembicaraan secara bersamaan.
"Kami bertanggung jawab penuh untuk melindungi pengguna. Oleh karena itu kami mengimbau para pengguna dan mitra kami untuk melaporkan kegiatan yang mencurigakan di PS, yang berpotensi kekerasan, atau ilegal. Melalui pelaporan itu kami berkomitmen untuk mengambil langkah tegas dan bekerja sama dengan pihak keamanan setempat," ujar pihak Sony dalam keterangannya.
Tidak hanya PS dan Telegram, ISIS juga diduga mengelola sistem rekrutmen dengan teknologi tinggi. Mereka memiliki help desk yang beroperasi selama 24 jam bernama "Jihadi Help Desk". Layanan rekrutmen tingkat tinggi ini dioperasikan oleh enam anggota senior ISIS.
Mereka mengajarkan orang-orang yang telah direkrut untuk bisa memahami cara menggunakan platform pesan singkat privat dan melakukan enkripsi.
Menangkal Teroris di Dunia Siber
Akibat platform komunikasi terenkripsi ini, gagasan untuk akses mengenkripsi aplikasi dan komunikasi elektronik kembali menyeruak. Badan intelijen negara sudah sejak lama mendesak agar bisa mengakses backdoor, metode untuk memotong jalur otentifikasi normal pada layanan komunikasi perusahaan teknologi.
Badan intelijen berdalih akses tersebut memungkinkan mereka memantau pesan email terenkripsi, aplikasi chatting, panggilan telepon, dan jenis komunikasi elektronik lainnya.
"Jika Anda menciptakan produk yang memungkinkan monster atau setan agar bisa berkomunikasi, memenggal kepala anak-anak, dan menembaki orang tak bersalah, baik permainan teror di stadion, restoran kecil di Paris, sampai mengambil alih maskapai, maka ini adalah problem besar," kata Dianne Feinstein, salah satu senator AS dari Partai Demokrat dalam Senate Intelligence Committee.
Tidak hanya pemerintah negara, kelompok peretas Anonymous pun geram dengan ulah ISIS. Mereka bahkan menantang ISIS untuk berperang di dunia siber. Dalam serangkan tweet, Anonymous juga menegaskan bahwa mereka sebenarnya telah lama memerangi ISIS.
Mereka berusaha mengganggu proses rekrutmen ISIS di media sosial, bahkan menghalau jalur komunikasi yang digunakan kelompok teror itu. Bahkan, salah satu akun Twitter Anonymous mengklaim bahwa mereka telah "menghabisi" 3.800 akun Twitter yang diduga pro-ISIS.
"Serangan siber memiliki dampak yang luar biasa. Tentu saja itu tidak bisa digunakan menangkap atau membunuh teroris secara fisik, namun bisa untuk menghancurkan komponen struktural dalam operasional para teroris. Mereka bisa mencari sumber pendanaan teroris dan menghentikan jalur tersebut agar ISIS tidak lagi mendapat suplai. Ini akan merusak operasional mereka," ujar ahli keamanan siber, David Gewirtz.
Untuk "memenangi perang", Anonymous meminta kontribusi banyak pengguna internet. Mereka pun merilis panduan untuk mengidentifikasi dan melumpuhkan situs dan akun jejaring sosial terkait ISIS.
Panduan itu termasuk "NoobGuide" bagi siapa saja yang ingin belajar meretas, kemudian "Reporter" yang merupakan penjelasan panduan proses mengatur akun robot, serta "Searcher" yang merupakan panduan untuk menemukan website ISIS.
Namun, pertanyaannya, apakah ini bisa membuat ISIS jera? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Tuesday, November 17, 2015

ISIS ciptaan Amerika????



taruhan online – judi online – freebet

IBOSPORT.COM - Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) kembali membuat teror pada Jumat pekan lalu. Kali ini giliran Prancis yang menjadi sasaran mereka.

Teror yang terjadi di Prancis terdiri dari tujuh serangan ditujuh tempat berbeda. Serangan paling parah terjadi di Gedung Konser Bataclan yang dipenuhi lebih dari 1.000 anak muda.

ISIS telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan teror tersebut. Klaim ISIS dibenarkan Presiden Francois Hollande yang segera menggelar jumpa pers di Istana Elycee pada Sabtu pagi waktu setempat.

"Kejahatan keji tadi malam dilakukan oleh pasukan jihadis ISIS untuk melawan Prancis," ujarnya seperti dilansir AFP , sabtu (14/11)

"Kejahatan ini dirancang dan dikendalikan dari luar negeri," imbuh Hollande. Presiden Prancis mengatakan akan melawan organisasi manapun yang berani menyerang Tanah Air mereka.

Prancis terlibat operasi militer Koalisi Barat menggempur markas militan di Suriah sejak akhir September lalu. Jet-jet tempur Negeri Anggur menyasar gudang logistik ISIS di wilayah utara.
ISIS memang tengah hangat dibicarakan. Namun, banyak pertanyaan bermunculan, siapakah sebenarnya ISIS? Apa yang mereka inginkan?

Banyak spekulasi mengatakan ISIS buatan Amerika Serikat. Seperti yang ditulis dalam situs globalresearch.ca yang mengatakan kelompok teror ini buatan Negeri Paman Sam.

Disebutkan ISIS dirancang sebagai instrumen teror untuk menaklukkan negara-negara kaya minyak Timur Tengah. Selain itu, ISIS juga disebut-sebut diciptakan untuk melawan pengaruh Iran yang tumbuh di wilayah dataran pasir tersebut.

Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat dinyatakan yang pertama kali bersekutu dengan ekstremis Islam selama era Perang Dingin AS dan Uni Soviet. AS melihat kala itu dunia bisa mereka kuasai dengan menaklukkan Uni Soviet dan menjadikan mereka alat.

"AS telah lama menggunakan terorisme dalam politiknya. Pada 1970-an, CIA menggunakan Ikhwanul Muslimin di Mesir sebagai penghalang, baik untuk menggagalkan ekspansi Soviet dan mencegah penyebaran ideologi Marxis. 

Bahkan Amerika juga secara terbuka mendukung Sarekat Islam menjatuhkan Bung Karno di Indonesia. Mereka juga mendukung kelompok teror di Pakistan, serta mereka juga yang menciptakan Al Qaidah.


Dalam situs ini dituliskan AS menggunakan ISIS dalam tiga cara. :

1. untuk menyerang musuh di Timur Tengah. 
2.  untuk melayani sebagai dalih intervensi AS di luar negeri.
3.  digunakan untuk mengancam Tanah Air mereka sendiri, yaitu membenarkan ekspansi yang belum pernah terjadi di wilayah Suriah.

ISIS ditugaskan untuk menjaga Suriah, dan menahan pengaruh Iran masuk ke negara itu. Bagi mereka, terorisme merupakan alasan untuk membenarkan pengawasan massa dan sebagai persiapan untuk pemberontakan di masa mendatang.

Beberapa bukti yang mengarah pada kebenaran Negeri Adi Daya ada dibalik ISIS yaitu dengan adanya tulisan US di tenda kemah militan kelompok teror tersebut. Dalam video latihan para jihadis yang dibuat CNN, terlihat jelas ada tulisan 'US' di tenda kemah tersebut.

Bukti ini semakin mengarah pada adanya AS dibalik ISIS. Mungkin AS menyokong para militan ini sehingga mereka tidak takut berbuat teror.

Calon Presiden Amerika Serikat Hillary Clinton juga sempat mengakui ISIS merupakan buatan negara yang dia harapkan dipimpinnya. Pengakuan Hillary disampaikan Pemimpin Tertinggi Iram Ayatollah Ali Khamenei , dalam situsnya.

Beberapa orang Amerika telah mengaku dalam memoarnya sendiri (termasuk memoar Hillary Clinton) bahwa mereka telah memainkan peran dalam menciptakan, mengembangkan dan membangun Daesh dan hari ini juga, mereka mendukungnya, kata Khamenei dalam situs resminya. Daesh adalah istilah Arab untuk menyebut kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Rumor pengakuan Hillary Clinton soal ISIS itu menyebar di sejumlah media negara-negara Arab. Dikatakan pengakuan Hillary itu dikutip dari isi buku memoar Hillary "Hard Choices".

Dalam kutipan yang sebenarnya sama sekali tidak terdapat dalam buku memoar itu, disebutkan Amerika menciptakan ISIS sebagai respon atas pergantian kepemimpinan di Mesir yang diambil alih militer ketika mengkudeta Presiden dari kelompok Ikhwanul Muslimin, Muhammad Mursi , pada 2013.

Meski begitu banyak juga orang yang tidak percaya Hillary benar-benar mengatakan demikian dalam bukunya. 

Ada dugaan munculnya memoar Hillary dalam kutipan pidato Khamenei di situs itu karena dimasukkan oleh seorang editor situs itu.