Showing posts with label bom bunuh diri. Show all posts
Showing posts with label bom bunuh diri. Show all posts

Wednesday, November 25, 2015

Tragedi Paris Salah Satu “Operasi Bendera Palsu”?






















Pada hari Jum’at, tanggal 13 alias Friday 13th di bulan November 2015 lalu, telah terjadi ledakan dan penembakan di beberapa tempat di Paris, Perancis. Membuat kepanikan di beberapa tempat, termasuk di gedung konser Bataclan Theatre, juga saat adanya pertandingan sepakbola antara Perancis vs Jerman, dan juga di sejumlah restaurant di kota Paris.

Teknik penyerangan ini dengan cara penembakan massal, bom, taktik tembak lari, penyanderaan dan serangan bunuh diri. Para militan berjumlah 7 orang, mereka memakai senapan serbu AK-47, geranat genggam dan sabuk peledak TATP.

[​IMG]
Peta lokasi serangan: 1: dekat Stade de France; 2: Rue Bichat dan rue Alibert (Le Petit Cambodge, Le Carillon); 3: Rue de la Fontaine-au-Roi (Casa Nostra); 4: Teater Bataclan; 5: Rue de Charonne (La Belle Équipe); Tanda Bintang: Bom bunuh diri terpisah (kecuali Bataclan).

Akibat penyerangan ini dilaporkan 129 orang tewas dan 352 orang terluka, 99 orang dari korban terluka dalam kondisi kritis.

Jumlah korban sebanyak 129 warga sipil, di Bataclan: 89 orang, di Le Carillon dan Le Petit Cambodge: 11 orang, di La Casa Nostra: 5 orang, di Stade de France: 6 orang dan di La Belle Équipe: 18 orang.

Sejauh ini korban luka sebanyak 352 orang termasuk 99 kritis.

Garis waktu serangan

  • 13 November:
21:16 – Bom bunuh diri pertama dekat Stade de France.
21:20 – Penembakan di Rue Bichat.
21:30 – Bom bunuh diri kedua di Stade de France.
21:45 – Empat pria memasuki teater Bataclan dan memulai penembakan.
21:50 – Penembakan di Rue de Charonne.
21:53 – Bom bunuh diri ketiga di Stade de France.
22:00 – Para sandera dibawa ke Bataclan.

  • 14 November:
00:58 – Kepolisian Perancis mengakhiri pengepungan di Bataclan, di mana 60–100 orang dijadikan sandera.

Konser musik Death Metal yang bernama “Eagles of Death Metal”

Setelah mengetahui sejarah Knights Templar yang sebenarnya, kini kita kembali lagi ke masa kini, di Paris Jumat malam 13 November 2015 atau “Friday 13” itu, di gedung konser bernama Bataclan Theatre, sedang berlangsung konser musik Death Metal yang bernama “Eagles of Death Metal“.

Dilaporkan beberapa orang bersenjata melakukan penembakan massal di Bataclan, menewaskan sedikitnya 89 penonton konser dan melukai lebih dari 200 orang. Band rock dari Amerika yang bernama “Eagles of Death Metal” sedang bermain konser dan tiketnya terjual habis untuk sekitar 1.500 fans di Bataclan pada saat itu.

[​IMG]
Gitaris merangkap vokalis utama grup Eagles of Death Metal yang bernama Jesse Hughes, menamakan dirinya sebagai “The Devil” atau Iblis.

Disebutkan bahwa band ini telah menjadi target dari Boikot anti-Israel, divestasi, dan gerakan sanksi (BDS), baik untuk tampil di Israel dan untuk anti-BDS dan pro-Israel karena pernyataan lirik mereka yang kuat.

Polisi kemudian menyerbu teater. Dua orang bersenjata bunuh diri dalam penyerbuan polisi dengan meledakkan rompi bunuh diri mereka memakai. Yang ketiga tewas akibat tembakan polisi sebelum ia bisa meledakkan rompinya.

Gitaris merangkap vokalis utama grup ini yang bernama Jesse Hughes, menamakan dirinya sebagai “The Devil” atau Iblis. Sangat kental hubungannya dengan “Friday 13th” dan hari sial ratusan Knights Templar yang pernah ditangkap oleh Philip IV dari Perancis.

Perlu diketahui bahwa kode keberadaan ordo Illuminati grup, selalu mengandalkan momen, logo, simbol dan angka dalam pergerakannya sebagai tanda atau kode, karena hal itu memang “bahasa” mereka untuk dapat diketahui oleh kelompok dan grup mereka yang lain.

Keanehan dan anomali di tempat kejadian

Hingga beberapa lama setelah beberapa tragedi di Paris tersebut, masih terjadi banyak keanehan, diantaranya:

  • Para pengunjung di tekmpat kejadian tidak dapat mengakses internet, padahal sinyal handphone tetap ada, mereka hanya bisa menelpon saja. Sepertinya akses ke internet diputus dengan sengaja.
  • Tidak ada banyak foto saat tragedi itu berlangsung, yang tersebar di internet hanya beberapa foto yang itu-itu saja dan itu pun dikeluarkan oleh para wartawan dari mainstream media tertentu.
  • Tidak ada rekaman dari kamera CCTV dari gedung-gedung juga tidak adanya rekaman dari CCTV jalanan.
  • Tidak ada banyak bukti video di tempat kejadian, kecuali lagi-lagi hanya dikeluarkan oleh para wartawan dari mainstream media tertentu.
  • Tidak adanya banyak foto hasil bidikan dari ribuan pengujung yang ada di tempat kejadian.
  • Tidak adanya foto atau video yang memperlihatkan mayat-mayat korban ditempat kejadian, yang di klaim telah terbunuh lebih dari 150 orang. Yang ada hanya satu atau dua mayat, dan itupun sudah ditutup oleh kain.
[​IMG]
Dengan adanya beberapa keanehan itu, maka timbul pertanyaan. Apakah dari ribuan masyarakat yang sedang berada di sana tidak ada yang membawa smartphone? Atau smartphone mereka hanyalah ponsel kuno yang tidak memiliki kamera seperti Nokia 5110?

Info tragedi ditulis lebih cepat dari info wartawan dan di Tweet oleh seseorang sebelum kejadian

Muncul pula rumors bahwa tragedi ini memang akan terjadi dan sudah diketahui oleh beberapa orang yang misterius. Semua itu diungkap dari wikipedia dan akun twiiter yang sudah terlebih dahulu menulisnya. Maka hal ini menimbulkan konspirasi dan banyak kecurigaan dari netizen yang kemudian menulisnya dan membahasnya di banyak forum di dunia maya pada saat itu.

[​IMG]
Pertandingan sepakbola persahabatan di stadion Paris, Stade de France antara Perancis dan Jerman, seketika bubar dan penonton berlari ke lapangan setelah terdengar bunyi ledakan diluar stadion pada Jumat 13 November malam.

Indonesia Menjadi Target ISIS?






















Indonesia disebutkan menjadi target ISIS selanjutnyaInformasi ini didapat setelah kelompok peretas jaringan komputer Anonymous menerbitkan pernyataan yang mengatakan bahwa rencana serangan yang selanjutnya akan menimpa berbagai tempat.

Seperti yang dikutip dari CNN Indonesia, pernyataan ini diungkap oleh OpParisIntel, yang merupakan subkelompok dari Anonymous. Dalam skemanya, disinyalir ISIS akan melakukan penyerangan selanjutnya terhadap Amerika Serikat, Italia, Libanon dan Indonesia, demikian laporan Anonymous.

Selain itu, sumber lain yang dikutip dari International Business Times mengatakan, hacktivis dunia maya yang menamakan dirinya sebagai OpParisIntel ini mengklaim telah menemukan informasi soal rencana serangan ISIS yang “kemungkinan terjadi” sepekan setelah tragedi Paris yang memakan korban lebih dari 130 jiwa.

Dalam pernyataan yang dirilis aktivis Anonymous dan diberitakan oleh media internasional, serangan yang dilaporkan bakal dilakukan ISIS untuk menargetkan “Al-Jihad, One Day One Juz (Indonesia).” Namun, saat itu pernyataan tersebut tidak menyebut secara pasti apa yang dimaksud dengan “Al-Jihad” dan “One Day One Juz,” begitu juga dengan lokasinya.

ACARA SUDAH SELESAI

Dari dalam negeri, kantor sebuah berita melaporkan, sebuah acara bertajuk One Day One Juz telah berlangsung di Masjid Al-Jihad, Karawang, Jawa Barat, pada Minggu, 22 November 2015, tepatnya dari pukul 07.30 sampai 12.00 WIB. Acara yang dihadiri sekitar 600 orang ini, pun demikian telah selesai dilaksanakan. Kelancaran acara juga tak luput dari kawalan petugas kepolisian.

Kabar buruknya, selain Indonesia, Anonymous juga mengklaim ISIS akan menyerang perhelatan WWE Survivor Series di Philips Arena di Atlanta, konser Five Finger Death Punch di Milan, University Pastoral Day di Lebanon, dan perayaan Kristus di sejumlah gereja Katolik seluruh dunia.

Anonymous merilis rencana ISIS tersebut lengkap dengan sebuah pernyataan yang berisi, “Tujuan kami adalah untuk memastikan seluruh dunia, atau setidaknya orang-orang yang hendak pergi ke tempat-tempat tersebut agar tahu ada ancaman dan kemungkinan serangan ISIS terjadi. Tujuan lainnya adalah agar ISIS sadar bahwa dunia sudah tahu dan segera membatalkan rencana serangan mereka.”

International Business Times melaporkan, pihak FBI di Amerika Serikat, menanggapi ancaman terhadap acara WWE Survivor Series dengan sangat serius.

Berita sebelumnya, Anonymous menyatakan telah memblokir 900 akun yang berhubungan dengan simpatisan ISIS. Serangan siber terhadap ISIS dinilai penting oleh Anonymous sebab selama ini ISIS memanfaatkan media sosial seperti Twitter sebagai alat propaganda dan perekrutan anggota.

Meski mudah bagi pihak ISIS untuk menciptakan akun Twitter baru, tentunya butuh waktu panjang untuk menggaet banyak pengikut atau follower dan menguatkan pesan kepada mereka.

Soal kendala yang dialami peretas Anonim ini, mereka mengibaratkan hal ini bagaikan sebuah lomba. Jika informasi ISIS tidak segera dibocorkan ke publik, akankah insiden Paris terulang kembali di tempat yang lain?

Friday, November 20, 2015

Disangka Teroris, Pemain Roma Berdarah Batak Digrebek Polisi






















Pengalaman tidak menyenangkan dialami pemain internasional Belgia berdarah Batak, Radja Nainggolan. Dia digrebek polisi karena diduga merupakan salah satu anggota teroris.

Seperti dilansir 101greatgoals, Kamis 19 November 2015, peristiwa naas tersebut terjadi pada Selasa malam kemarin. Ketika Nainggolan sedang menginap di hotel Radisson, Antwerp. 

Seorang pengunjung hotel menelepon kantor kepolisian karena menduga Nainggolan anggota teroris. Aparat kepolisian langsung dengan sigap merespon laporan ini dengan menggrebek kamar tempat Nainggolan menginap.

Beruntung ketika bertatap muka, para petugas kepolisian itu mengenali wajah Nainggolan sebagai pesepakbola profesional. Mereka selanjutnya memanfaatkan momen ini dengan melakukan selfie dengan pemain AS Roma itu. 

"Jelas, saya memiliki tampilan yang menakutkan. Tapi  untungnya polisi langsung mengenali saya," kata pemain berusia 27 tahun itu yang langsung kembali ke Italia pada Rabu kemarin untuk memperkuat AS Roma.

Cerita ini menggambatkan betapa publik Belgia masih dalam suasana ketakutan pasca aksi teroris di Paris, Prancis, pekan lalu. Di mana salah satu pelakukanya diketahui merupakan warga Belgia.

Teknologi Canggih, Teroris Makin Gigih






















Usai serangkaian serangan ISIS di Paris, yang mengakibatkan 129 orang tewas dan 300 lainnya luka-luka, membuat banyak pihak meyakini jika ISIS menggunakan koordinasi yang canggih untuk bisa merencanakan itu semua.
Namun, teknologi bagaimana dan apa yang digunakan masih menjadi tanda tanya hingga saat ini. Yang jelas, para ahli keamanan siber yakin jika ISIS menggunakan banyak platform teknologi untuk merencanakan teror yang terkoordinasi ke negara-negara yang dituju di seluruh dunia.
Salah satu yang paling meyakinkan adalah penggunaan platform komunikasi yang terenkripsi. Ini merupakan hal yang sangat mungkin digunakan, mengingat sangat sulit untuk melacak ataupun bekerja sama dengan pemilik platform karena tak adanya kunci pembuka enkripsi.
Tidak heran jika kemudian perdebatan mengenai enkripsi platform komunikasi kembali menggema. Di satu sisi, enkripsi komunikasi bisa mencegah tragedi seperti ini. Namun, di sisi lain akan mengganggu privasi pengguna dan melanggar netralitas internet.
Yang terbaru, mantan Direktur CIA, James Woolsey, menumpahkan kesalahan pada mantan kontraktor NASA yang juga menjadiwhistleblower, Edward Snowden. Dilansir melalui Arstechnica, Kamis, 19 November 2015, Woolsey menganggap Snowden telah membocorkan kepada publik, termasuk kepada teroris, cara-cara dan kemampuan mata-mata yang dimiliki badan intelijen Amerika dan dunia.
Tidak heran jika kini kemampuan komunikasi dan perencanaan yang dilakukan teroris sulit untuk dilacak oleh badan intelijen tersebut.
“Edward Snowden ‘memiliki darah di tangannya’.  Dia yang ‘membuka pintu’ bagi para teroris untuk mengetahui cara kerja badan intelijen dunia. Salah satu risiko yang ditimbulkan Snowden, Amerika dan Prancis tidak bisa melacak perencanaan teror dan menghentikan tragedi di Paris,” ujar Woolsey.
Namun, tuduhan ini sepertinya berlebihan. Sebab, penggunaan komunikasi yang terenkripsi sudah lama dilakukan oleh para teroris, tidak hanya ISIS. Kebanyakan mereka menggunakan berbagai macam kriptografi.
Misalnya pada 1990an, Al Qaeda diduga menggunakan berbagai macam bentuk enkripsi untuk menyembunyikan file untuk menyebar informasi di berbagai situs, termasuk penggunaan file terenkripsi yang dibawa melalui CD dan USB oleh para kurir.
Untuk membuka dokumen tersembunyi, mereka menggunakan steganografi, atau seni penyembunyian pesan ke dalam pesan lainnya yang dilakukan sedemikian rupa, sehingga orang lain tidak menyadari. Organisasi teroris itu biasanya meletakkan pesan tersembunyi pada video porno di situs, ketimbang harus menggunakan email.
Banyak Platform Menuju ISIS
Di dunia, banyak platform komunikasi terenkripsi yang kerap disukai teroris. Platform tersebut biasanya bersifat gratis dan mudah digunakan. Beberapa di antaranya seperti WhatsApp, Signal, RedPhone, Wickr, dan Telegram. Platform komunikasi ini mudah dienkripsi dan bisa digunakan tanpa identitas pengirim maupun pengguna. Namun, di antara sekian banyak platform, ISIS diketahui lebih suka menggunakan Telegram.
Telegram merupakan platform pesan singkat yang tidak menyimpan pesan sebagai arsip. Sifat pesan tidak kekal dan bisa berlalu begitu saja.
Platform buatan warga Rusia, Pavel Durov, memungkinkan adanya pembuatan "channel" yang bisa digunakan untuk mengirim pesan dan percakapan kelompok sampai lebih dari 200 orang. Pada Oktober lalu, Middle East Media Research Institute (MEMRI) melaporkan jika ISIS dan Al Qaeda telah menciptakan banyak channel di Telegram guna mengamankan komunikasi dan berbagi file secara aman.
“Mereka menggunakan Telegram untuk berbagi info, termasuk tutorial untuk merakit senapan, melancarkan serangan bersenjata, menghubungi penyerang untuk merencanakan target pembunuhan, dan teror di mana saja,” ujar periset dari MEMRI, M. Khayat.
Alex Kassirer, analis kontra terorisme Flashpoint, perusahaan intelijen swasta berbasis si New York, menuding ISIS memakai saluranbroadcast Telegram untuk menggelar rekrutmen, propaganda, inspirasi, sampai motivasi. Bahkan, menurut Direktur Bethesda, Rita Katz, layanan monitoring ekstremis di AS, ISIS disebutkan punya tiga sampai empat saluran di Telegram.
Beberapa saluran Telegram dikatakan menarik puluhan ribu pengikut. Selain memakai Telegram, kelompok ekstremis itu juga menggunakan Twitter untuk menyebarkan propagandanya. Sejak teror Paris, pengelola Telegram mengaku telah memblokir 78 saluran yang terkait dengan ISIS.
Saat ini, Telegram punya 60 juta pengguna dan untuk sebuah layanan enkripsi angka itu menunjukkan aplikasi tersebut sangat populer. Sebab, jumlah pengguna Telegram itu sama dengan total jumlah pengguna tiga layanan enkripsi yaitu Signal, Silent Circle, dan Wickr.
Selain Telegram, Menteri Dalam Negeri Belgia, Jan Jambon, mengungkap jika berkomunikasi melalui konsol PlayStation 4 (PS4) merupakan jalur yang aman bagi para teroris. Keyakinan ini muncul setelah sebuah PS4 ditemukan di rumah salah seorang tersangka teroris ISIS yang melakukan penyerangan.
Meski belum ada bukti otentik, banyak ahli keamanan yang yakin jika PS4 merupakan jalur komunikasi yang aman bagi teroris. Menurut ahli keamanan, jalur komunikasi PS4 susah dilacak karena pengiriman pesan bisa dilakukan dengan berbagai bentuk.
Pengiriman pesan bisa dilakukan melalui layanan online game atau berkomunikasi saat sedang memainkan game tertentu. Dari keseluruhan format, menurut ahli keamanan, sistem suara berbasis internet merupakan bentuk komunikasi yang disukai teroris ISIS. Mereka bisa melakukan pembicaraan secara bersamaan.
"Kami bertanggung jawab penuh untuk melindungi pengguna. Oleh karena itu kami mengimbau para pengguna dan mitra kami untuk melaporkan kegiatan yang mencurigakan di PS, yang berpotensi kekerasan, atau ilegal. Melalui pelaporan itu kami berkomitmen untuk mengambil langkah tegas dan bekerja sama dengan pihak keamanan setempat," ujar pihak Sony dalam keterangannya.
Tidak hanya PS dan Telegram, ISIS juga diduga mengelola sistem rekrutmen dengan teknologi tinggi. Mereka memiliki help desk yang beroperasi selama 24 jam bernama "Jihadi Help Desk". Layanan rekrutmen tingkat tinggi ini dioperasikan oleh enam anggota senior ISIS.
Mereka mengajarkan orang-orang yang telah direkrut untuk bisa memahami cara menggunakan platform pesan singkat privat dan melakukan enkripsi.
Menangkal Teroris di Dunia Siber
Akibat platform komunikasi terenkripsi ini, gagasan untuk akses mengenkripsi aplikasi dan komunikasi elektronik kembali menyeruak. Badan intelijen negara sudah sejak lama mendesak agar bisa mengakses backdoormetode untuk memotong jalur otentifikasi normal pada layanan komunikasi perusahaan teknologi.
Badan intelijen berdalih akses tersebut memungkinkan mereka memantau pesan email terenkripsi, aplikasi chattingpanggilan telepon, dan jenis komunikasi elektronik lainnya.
"Jika Anda menciptakan produk yang memungkinkan monster atau setan agar bisa berkomunikasi, memenggal kepala anak-anak, dan menembaki orang tak bersalah, baik permainan teror di stadion, restoran kecil di Paris, sampai mengambil alih maskapai, maka ini adalah problem besar," kata Dianne Feinstein, salah satu senator AS dari Partai Demokrat dalam Senate Intelligence Committee.
Tidak hanya pemerintah negara, kelompok peretas Anonymous pun geram dengan ulah ISIS. Mereka bahkan menantang ISIS untuk berperang di dunia siber. Dalam serangkan tweet, Anonymous juga menegaskan bahwa mereka sebenarnya telah lama memerangi ISIS.
Mereka berusaha mengganggu proses rekrutmen ISIS di media sosial, bahkan menghalau jalur komunikasi yang digunakan kelompok teror itu. Bahkan, salah satu akun Twitter Anonymous mengklaim bahwa mereka telah "menghabisi" 3.800 akun Twitter yang diduga pro-ISIS.
"Serangan siber memiliki dampak yang luar biasa. Tentu saja itu tidak bisa digunakan menangkap atau membunuh teroris secara fisik, namun bisa untuk menghancurkan komponen struktural dalam operasional para teroris. Mereka bisa mencari sumber pendanaan teroris dan menghentikan jalur tersebut agar ISIS tidak lagi mendapat suplai. Ini akan merusak operasional mereka," ujar ahli keamanan siber, David Gewirtz.
Untuk "memenangi perang", Anonymous meminta kontribusi banyak pengguna internet. Mereka pun merilis panduan untuk mengidentifikasi dan melumpuhkan situs dan akun jejaring sosial terkait ISIS.
Panduan itu termasuk "NoobGuide" bagi siapa saja yang ingin belajar meretas, kemudian "Reporter" yang merupakan penjelasan panduan proses mengatur akun robot, serta "Searcher" yang merupakan panduan untuk menemukan website ISIS.
Namun, pertanyaannya, apakah ini bisa membuat ISIS jera? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Sunday, November 15, 2015

Polisi Prancis berhasil mengidentifikasi tiga pelaku bom bunuh diri.





















Polisi Prancis berhasil mengidentifikasi tiga pelaku bom bunuh diri dari delapan orang. Polisi juga menemukan paspor Suriah dan Mesir dari tubuh dua pelaku. 
Polisi setempat terus mencari bukti-bukti yang akurat dalam mendalami kasus serangan berdarah yang terjadi Jumat, 13 November 2015 lalu.
Salah satu pelaku yang berhasil diidentifikasi pihak berwajib adalah warga negara Prancis. Negara ini menyebutnya ekstremis. 
Seperti dilansir dari Daily Mail, tiga orang pelaku bunuh diri di luar Stadion Stade de France, dua di antaranya diduga masih sangat muda. Diduga usia mereka sekitar 15 tahun. 
Sementara itu, satu pelaku lain yang ditemukan paspor Suriah di tubuhnya, diperkirakan berusia 25 tahun. 
Menurut laporan harian Prancis, El Figaro penyidik menemukan bukti baru berupa rekaman dua teroris yang berkomunikasi dengan Bahasa Prancis.
Delapan teroris yang menyerang Paris tewas, tujuh di antaranya melakukan bom bunuh diri, dan satu lainnya terkena tembakan polisi. 

Ini Kronologi Teror Paris





















Tragedi penembakan dan ledakan terjadi di Paris, Prancis, Jumat malam, 13 November 2015, waktu setempat. Dilaporkan, ratusan orang tewas dalam insiden yang terjadi di dekat pusat kesenian Bataclan. 

Lokasi kejadian tepatnya di Stadium State de France, Gedung Konser Bataclan, Rue Bichat, Av. de la Republique, Bd. Voltaire, Rue Charonne, Bld Beaumarchais

Berikut kronologi insiden tersebut, seperti dikutip dari lamanTelegraph, Sabtu 14 November 2015.

21:09
Seorang pria tak dikenal melakukan tembakan di sebuah restoran dan menyebabkan sejumlah oang tewas dan luka-luka. Diketahui pelaku menggunakan senapan Kalashbikov. Polisi mulai melakukan penjagaan.

21:42
Polisi gabungan melaporkan korban tewas sebanyak 20 orang, tetapi tidak diketahui apakah serangan masih berlanjut atau tidak. Ada dua ledakan bom bunuh diri di luar stadium utama State de France, di mana tim sepakbola Prancis sedang bertanding melawan tim Jerman, beberapa orang ditemukan tewas.

21:48
Saksi mata mengatakan, orang-orang bersenjata menyandera belasan orang di gedung konser Bataclan (serangan tembakan kedua). Gedung konser berdekatan dengan kantor Charlie Hebdo, yang dulu pernah diserang oleh kelompok militan.

22.29
Seorang pria bersenjata berteriak, “Ini untuk Suriah, Allahu akbar.”

23:02
Presiden Hollande mengumumkan melalui televisi dan radio bahwa keadaan darurat untuk Prancis akan segera dideklarasikan. “Prancis harus kuat melawan terorisme. Penyerang berada di Paris, ini mengkhawatirkan. Kami mengerahkan seluruh tenaga keamanan, pertemuan Kabinet akan dilakukan, militer sudah dikerahkan,” kata Presiden Hollande.

23:35
“Tiga orang bersenjata dan mengenakan jaket antipeluru mulai melakukan penembakan di tengah-tengah konser di gedung Bataclan. Ada sekitar 1.000 orang di sana, saya melihat seorang gadis tertembak tepat di depan saya,” kata seorang saksi yang berhasil melarikan diri.

23:55
Dua pelaku dilaporkan tewas oleh perlawanan polisi gabungan di Bataclan.

00:35
140 korban dinyatakan tewas. Lebih dari 100 korban tewas atas penembakan di Bataclan dan 40 lainnya di lokasi berbeda di sekitar Prancis. Tiga pelaku berhasil ditembak oleh polisi di lokasi kejadian.

Ditemukan Ini di Tubuh Pelaku Bom Bunuh Diri Tragedi Paris




























Polisi Prancis terus menyelidiki dan mencari banyak bukti terkait insiden tragedi Paris yang mengguncang ibu kota Prancis tersebut pada Jumat malam lalu.
Pelaku menyerang beberapa titik di kota mode dunia itu dengan meledakkan bom dan melakukan penembakan. Lebih dari 150 orang menjadi korban tragedi berdarah tersebut.
Menurut kaporan, dari delapan orang pelaku bom bunuh diri, salah satu pelaku telah berhasil diidentifikasi identitasnya. Identifikasi tersebut dilakukan menggunakan sidik jari.

Pelaku diidentifikasi sebagai orang Prancis. Ia melakukan aksinya di Bataclan. Prancis menyebutnya sebagai ekstremis.
Sementara itu, seperti dilaporkan media Prancis, polisi juga menemukan paspor Suriah di pelaku bom bunuh diri. Pelaku ini melakukan aksi bom bunuh diri di luar Stadion Stade de France.
Tak hanya itu, polisi juga menemukan paspor Mesir dari pelaku lainnya yang juga menyerang stadion tersebut.
Sejauh ini, tiga orang sudah berhasil diidentifikasi. Dua orang dengan paspor Suriah dan Mesir, sementara satunya adalah orang Prancis.
Seperti dilansir dari Daily Mail, pemilik paspor Suriah diyakini pemiliknya berusia 25 tahun. Namun, belum diketahui apakah paspor Surih itu sudah otentik, atau hanya paspor palsu yang membanjiri Eropa karena krisis pengungsi.