Showing posts with label paris. Show all posts
Showing posts with label paris. Show all posts

Wednesday, November 25, 2015

Tragedi Paris Salah Satu “Operasi Bendera Palsu”?






















Pada hari Jum’at, tanggal 13 alias Friday 13th di bulan November 2015 lalu, telah terjadi ledakan dan penembakan di beberapa tempat di Paris, Perancis. Membuat kepanikan di beberapa tempat, termasuk di gedung konser Bataclan Theatre, juga saat adanya pertandingan sepakbola antara Perancis vs Jerman, dan juga di sejumlah restaurant di kota Paris.

Teknik penyerangan ini dengan cara penembakan massal, bom, taktik tembak lari, penyanderaan dan serangan bunuh diri. Para militan berjumlah 7 orang, mereka memakai senapan serbu AK-47, geranat genggam dan sabuk peledak TATP.

[​IMG]​
Peta lokasi serangan: 1: dekat Stade de France; 2: Rue Bichat dan rue Alibert (Le Petit Cambodge, Le Carillon); 3: Rue de la Fontaine-au-Roi (Casa Nostra); 4: Teater Bataclan; 5: Rue de Charonne (La Belle Équipe); Tanda Bintang: Bom bunuh diri terpisah (kecuali Bataclan).

Akibat penyerangan ini dilaporkan 129 orang tewas dan 352 orang terluka, 99 orang dari korban terluka dalam kondisi kritis.

Jumlah korban sebanyak 129 warga sipil, di Bataclan: 89 orang, di Le Carillon dan Le Petit Cambodge: 11 orang, di La Casa Nostra: 5 orang, di Stade de France: 6 orang dan di La Belle Équipe: 18 orang.

Sejauh ini korban luka sebanyak 352 orang termasuk 99 kritis.

Garis waktu serangan

  • 13 November:
21:16 – Bom bunuh diri pertama dekat Stade de France.
21:20 – Penembakan di Rue Bichat.
21:30 – Bom bunuh diri kedua di Stade de France.
21:45 – Empat pria memasuki teater Bataclan dan memulai penembakan.
21:50 – Penembakan di Rue de Charonne.
21:53 – Bom bunuh diri ketiga di Stade de France.
22:00 – Para sandera dibawa ke Bataclan.

  • 14 November:
00:58 – Kepolisian Perancis mengakhiri pengepungan di Bataclan, di mana 60–100 orang dijadikan sandera.

Konser musik Death Metal yang bernama “Eagles of Death Metal”

Setelah mengetahui sejarah Knights Templar yang sebenarnya, kini kita kembali lagi ke masa kini, di Paris Jumat malam 13 November 2015 atau “Friday 13” itu, di gedung konser bernama Bataclan Theatre, sedang berlangsung konser musik Death Metal yang bernama “Eagles of Death Metal“.

Dilaporkan beberapa orang bersenjata melakukan penembakan massal di Bataclan, menewaskan sedikitnya 89 penonton konser dan melukai lebih dari 200 orang. Band rock dari Amerika yang bernama “Eagles of Death Metal” sedang bermain konser dan tiketnya terjual habis untuk sekitar 1.500 fans di Bataclan pada saat itu.

[​IMG]​
Gitaris merangkap vokalis utama grup Eagles of Death Metal yang bernama Jesse Hughes, menamakan dirinya sebagai “The Devil” atau Iblis.

Disebutkan bahwa band ini telah menjadi target dari Boikot anti-Israel, divestasi, dan gerakan sanksi (BDS), baik untuk tampil di Israel dan untuk anti-BDS dan pro-Israel karena pernyataan lirik mereka yang kuat.

Polisi kemudian menyerbu teater. Dua orang bersenjata bunuh diri dalam penyerbuan polisi dengan meledakkan rompi bunuh diri mereka memakai. Yang ketiga tewas akibat tembakan polisi sebelum ia bisa meledakkan rompinya.

Gitaris merangkap vokalis utama grup ini yang bernama Jesse Hughes, menamakan dirinya sebagai “The Devil” atau Iblis. Sangat kental hubungannya dengan “Friday 13th” dan hari sial ratusan Knights Templar yang pernah ditangkap oleh Philip IV dari Perancis.

Perlu diketahui bahwa kode keberadaan ordo Illuminati grup, selalu mengandalkan momen, logo, simbol dan angka dalam pergerakannya sebagai tanda atau kode, karena hal itu memang “bahasa” mereka untuk dapat diketahui oleh kelompok dan grup mereka yang lain.

Keanehan dan anomali di tempat kejadian

Hingga beberapa lama setelah beberapa tragedi di Paris tersebut, masih terjadi banyak keanehan, diantaranya:

  • Para pengunjung di tekmpat kejadian tidak dapat mengakses internet, padahal sinyal handphone tetap ada, mereka hanya bisa menelpon saja. Sepertinya akses ke internet diputus dengan sengaja.
  • Tidak ada banyak foto saat tragedi itu berlangsung, yang tersebar di internet hanya beberapa foto yang itu-itu saja dan itu pun dikeluarkan oleh para wartawan dari mainstream media tertentu.
  • Tidak ada rekaman dari kamera CCTV dari gedung-gedung juga tidak adanya rekaman dari CCTV jalanan.
  • Tidak ada banyak bukti video di tempat kejadian, kecuali lagi-lagi hanya dikeluarkan oleh para wartawan dari mainstream media tertentu.
  • Tidak adanya banyak foto hasil bidikan dari ribuan pengujung yang ada di tempat kejadian.
  • Tidak adanya foto atau video yang memperlihatkan mayat-mayat korban ditempat kejadian, yang di klaim telah terbunuh lebih dari 150 orang. Yang ada hanya satu atau dua mayat, dan itupun sudah ditutup oleh kain.
[​IMG]
​
Dengan adanya beberapa keanehan itu, maka timbul pertanyaan. Apakah dari ribuan masyarakat yang sedang berada di sana tidak ada yang membawa smartphone? Atau smartphone mereka hanyalah ponsel kuno yang tidak memiliki kamera seperti Nokia 5110?

Info tragedi ditulis lebih cepat dari info wartawan dan di Tweet oleh seseorang sebelum kejadian

Muncul pula rumors bahwa tragedi ini memang akan terjadi dan sudah diketahui oleh beberapa orang yang misterius. Semua itu diungkap dari wikipedia dan akun twiiter yang sudah terlebih dahulu menulisnya. Maka hal ini menimbulkan konspirasi dan banyak kecurigaan dari netizen yang kemudian menulisnya dan membahasnya di banyak forum di dunia maya pada saat itu.

[​IMG]
Pertandingan sepakbola persahabatan di stadion Paris, Stade de France antara Perancis dan Jerman, seketika bubar dan penonton berlari ke lapangan setelah terdengar bunyi ledakan diluar stadion pada Jumat 13 November malam.

Friday, November 20, 2015

Disangka Teroris, Pemain Roma Berdarah Batak Digrebek Polisi






















Pengalaman tidak menyenangkan dialami pemain internasional Belgia berdarah Batak, Radja Nainggolan. Dia digrebek polisi karena diduga merupakan salah satu anggota teroris.

Seperti dilansir 101greatgoals, Kamis 19 November 2015, peristiwa naas tersebut terjadi pada Selasa malam kemarin. Ketika Nainggolan sedang menginap di hotel Radisson, Antwerp. 

Seorang pengunjung hotel menelepon kantor kepolisian karena menduga Nainggolan anggota teroris. Aparat kepolisian langsung dengan sigap merespon laporan ini dengan menggrebek kamar tempat Nainggolan menginap.

Beruntung ketika bertatap muka, para petugas kepolisian itu mengenali wajah Nainggolan sebagai pesepakbola profesional. Mereka selanjutnya memanfaatkan momen ini dengan melakukan selfie dengan pemain AS Roma itu. 

"Jelas, saya memiliki tampilan yang menakutkan. Tapi  untungnya polisi langsung mengenali saya," kata pemain berusia 27 tahun itu yang langsung kembali ke Italia pada Rabu kemarin untuk memperkuat AS Roma.

Cerita ini menggambatkan betapa publik Belgia masih dalam suasana ketakutan pasca aksi teroris di Paris, Prancis, pekan lalu. Di mana salah satu pelakukanya diketahui merupakan warga Belgia.

Teknologi Canggih, Teroris Makin Gigih






















Usai serangkaian serangan ISIS di Paris, yang mengakibatkan 129 orang tewas dan 300 lainnya luka-luka, membuat banyak pihak meyakini jika ISIS menggunakan koordinasi yang canggih untuk bisa merencanakan itu semua.
Namun, teknologi bagaimana dan apa yang digunakan masih menjadi tanda tanya hingga saat ini. Yang jelas, para ahli keamanan siber yakin jika ISIS menggunakan banyak platform teknologi untuk merencanakan teror yang terkoordinasi ke negara-negara yang dituju di seluruh dunia.
Salah satu yang paling meyakinkan adalah penggunaan platform komunikasi yang terenkripsi. Ini merupakan hal yang sangat mungkin digunakan, mengingat sangat sulit untuk melacak ataupun bekerja sama dengan pemilik platform karena tak adanya kunci pembuka enkripsi.
Tidak heran jika kemudian perdebatan mengenai enkripsi platform komunikasi kembali menggema. Di satu sisi, enkripsi komunikasi bisa mencegah tragedi seperti ini. Namun, di sisi lain akan mengganggu privasi pengguna dan melanggar netralitas internet.
Yang terbaru, mantan Direktur CIA, James Woolsey, menumpahkan kesalahan pada mantan kontraktor NASA yang juga menjadiwhistleblower, Edward Snowden. Dilansir melalui Arstechnica, Kamis, 19 November 2015, Woolsey menganggap Snowden telah membocorkan kepada publik, termasuk kepada teroris, cara-cara dan kemampuan mata-mata yang dimiliki badan intelijen Amerika dan dunia.
Tidak heran jika kini kemampuan komunikasi dan perencanaan yang dilakukan teroris sulit untuk dilacak oleh badan intelijen tersebut.
“Edward Snowden ‘memiliki darah di tangannya’.  Dia yang ‘membuka pintu’ bagi para teroris untuk mengetahui cara kerja badan intelijen dunia. Salah satu risiko yang ditimbulkan Snowden, Amerika dan Prancis tidak bisa melacak perencanaan teror dan menghentikan tragedi di Paris,” ujar Woolsey.
Namun, tuduhan ini sepertinya berlebihan. Sebab, penggunaan komunikasi yang terenkripsi sudah lama dilakukan oleh para teroris, tidak hanya ISIS. Kebanyakan mereka menggunakan berbagai macam kriptografi.
Misalnya pada 1990an, Al Qaeda diduga menggunakan berbagai macam bentuk enkripsi untuk menyembunyikan file untuk menyebar informasi di berbagai situs, termasuk penggunaan file terenkripsi yang dibawa melalui CD dan USB oleh para kurir.
Untuk membuka dokumen tersembunyi, mereka menggunakan steganografi, atau seni penyembunyian pesan ke dalam pesan lainnya yang dilakukan sedemikian rupa, sehingga orang lain tidak menyadari. Organisasi teroris itu biasanya meletakkan pesan tersembunyi pada video porno di situs, ketimbang harus menggunakan email.
Banyak Platform Menuju ISIS
Di dunia, banyak platform komunikasi terenkripsi yang kerap disukai teroris. Platform tersebut biasanya bersifat gratis dan mudah digunakan. Beberapa di antaranya seperti WhatsApp, Signal, RedPhone, Wickr, dan Telegram. Platform komunikasi ini mudah dienkripsi dan bisa digunakan tanpa identitas pengirim maupun pengguna. Namun, di antara sekian banyak platform, ISIS diketahui lebih suka menggunakan Telegram.
Telegram merupakan platform pesan singkat yang tidak menyimpan pesan sebagai arsip. Sifat pesan tidak kekal dan bisa berlalu begitu saja.
Platform buatan warga Rusia, Pavel Durov, memungkinkan adanya pembuatan "channel" yang bisa digunakan untuk mengirim pesan dan percakapan kelompok sampai lebih dari 200 orang. Pada Oktober lalu, Middle East Media Research Institute (MEMRI) melaporkan jika ISIS dan Al Qaeda telah menciptakan banyak channel di Telegram guna mengamankan komunikasi dan berbagi file secara aman.
“Mereka menggunakan Telegram untuk berbagi info, termasuk tutorial untuk merakit senapan, melancarkan serangan bersenjata, menghubungi penyerang untuk merencanakan target pembunuhan, dan teror di mana saja,” ujar periset dari MEMRI, M. Khayat.
Alex Kassirer, analis kontra terorisme Flashpoint, perusahaan intelijen swasta berbasis si New York, menuding ISIS memakai saluranbroadcast Telegram untuk menggelar rekrutmen, propaganda, inspirasi, sampai motivasi. Bahkan, menurut Direktur Bethesda, Rita Katz, layanan monitoring ekstremis di AS, ISIS disebutkan punya tiga sampai empat saluran di Telegram.
Beberapa saluran Telegram dikatakan menarik puluhan ribu pengikut. Selain memakai Telegram, kelompok ekstremis itu juga menggunakan Twitter untuk menyebarkan propagandanya. Sejak teror Paris, pengelola Telegram mengaku telah memblokir 78 saluran yang terkait dengan ISIS.
Saat ini, Telegram punya 60 juta pengguna dan untuk sebuah layanan enkripsi angka itu menunjukkan aplikasi tersebut sangat populer. Sebab, jumlah pengguna Telegram itu sama dengan total jumlah pengguna tiga layanan enkripsi yaitu Signal, Silent Circle, dan Wickr.
Selain Telegram, Menteri Dalam Negeri Belgia, Jan Jambon, mengungkap jika berkomunikasi melalui konsol PlayStation 4 (PS4) merupakan jalur yang aman bagi para teroris. Keyakinan ini muncul setelah sebuah PS4 ditemukan di rumah salah seorang tersangka teroris ISIS yang melakukan penyerangan.
Meski belum ada bukti otentik, banyak ahli keamanan yang yakin jika PS4 merupakan jalur komunikasi yang aman bagi teroris. Menurut ahli keamanan, jalur komunikasi PS4 susah dilacak karena pengiriman pesan bisa dilakukan dengan berbagai bentuk.
Pengiriman pesan bisa dilakukan melalui layanan online game atau berkomunikasi saat sedang memainkan game tertentu. Dari keseluruhan format, menurut ahli keamanan, sistem suara berbasis internet merupakan bentuk komunikasi yang disukai teroris ISIS. Mereka bisa melakukan pembicaraan secara bersamaan.
"Kami bertanggung jawab penuh untuk melindungi pengguna. Oleh karena itu kami mengimbau para pengguna dan mitra kami untuk melaporkan kegiatan yang mencurigakan di PS, yang berpotensi kekerasan, atau ilegal. Melalui pelaporan itu kami berkomitmen untuk mengambil langkah tegas dan bekerja sama dengan pihak keamanan setempat," ujar pihak Sony dalam keterangannya.
Tidak hanya PS dan Telegram, ISIS juga diduga mengelola sistem rekrutmen dengan teknologi tinggi. Mereka memiliki help desk yang beroperasi selama 24 jam bernama "Jihadi Help Desk". Layanan rekrutmen tingkat tinggi ini dioperasikan oleh enam anggota senior ISIS.
Mereka mengajarkan orang-orang yang telah direkrut untuk bisa memahami cara menggunakan platform pesan singkat privat dan melakukan enkripsi.
Menangkal Teroris di Dunia Siber
Akibat platform komunikasi terenkripsi ini, gagasan untuk akses mengenkripsi aplikasi dan komunikasi elektronik kembali menyeruak. Badan intelijen negara sudah sejak lama mendesak agar bisa mengakses backdoor, metode untuk memotong jalur otentifikasi normal pada layanan komunikasi perusahaan teknologi.
Badan intelijen berdalih akses tersebut memungkinkan mereka memantau pesan email terenkripsi, aplikasi chatting, panggilan telepon, dan jenis komunikasi elektronik lainnya.
"Jika Anda menciptakan produk yang memungkinkan monster atau setan agar bisa berkomunikasi, memenggal kepala anak-anak, dan menembaki orang tak bersalah, baik permainan teror di stadion, restoran kecil di Paris, sampai mengambil alih maskapai, maka ini adalah problem besar," kata Dianne Feinstein, salah satu senator AS dari Partai Demokrat dalam Senate Intelligence Committee.
Tidak hanya pemerintah negara, kelompok peretas Anonymous pun geram dengan ulah ISIS. Mereka bahkan menantang ISIS untuk berperang di dunia siber. Dalam serangkan tweet, Anonymous juga menegaskan bahwa mereka sebenarnya telah lama memerangi ISIS.
Mereka berusaha mengganggu proses rekrutmen ISIS di media sosial, bahkan menghalau jalur komunikasi yang digunakan kelompok teror itu. Bahkan, salah satu akun Twitter Anonymous mengklaim bahwa mereka telah "menghabisi" 3.800 akun Twitter yang diduga pro-ISIS.
"Serangan siber memiliki dampak yang luar biasa. Tentu saja itu tidak bisa digunakan menangkap atau membunuh teroris secara fisik, namun bisa untuk menghancurkan komponen struktural dalam operasional para teroris. Mereka bisa mencari sumber pendanaan teroris dan menghentikan jalur tersebut agar ISIS tidak lagi mendapat suplai. Ini akan merusak operasional mereka," ujar ahli keamanan siber, David Gewirtz.
Untuk "memenangi perang", Anonymous meminta kontribusi banyak pengguna internet. Mereka pun merilis panduan untuk mengidentifikasi dan melumpuhkan situs dan akun jejaring sosial terkait ISIS.
Panduan itu termasuk "NoobGuide" bagi siapa saja yang ingin belajar meretas, kemudian "Reporter" yang merupakan penjelasan panduan proses mengatur akun robot, serta "Searcher" yang merupakan panduan untuk menemukan website ISIS.
Namun, pertanyaannya, apakah ini bisa membuat ISIS jera? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Tuesday, November 17, 2015

ISIS ciptaan Amerika????



taruhan online – judi online – freebet

IBOSPORT.COM - Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) kembali membuat teror pada Jumat pekan lalu. Kali ini giliran Prancis yang menjadi sasaran mereka.

Teror yang terjadi di Prancis terdiri dari tujuh serangan ditujuh tempat berbeda. Serangan paling parah terjadi di Gedung Konser Bataclan yang dipenuhi lebih dari 1.000 anak muda.

ISIS telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan teror tersebut. Klaim ISIS dibenarkan Presiden Francois Hollande yang segera menggelar jumpa pers di Istana Elycee pada Sabtu pagi waktu setempat.

"Kejahatan keji tadi malam dilakukan oleh pasukan jihadis ISIS untuk melawan Prancis," ujarnya seperti dilansir AFP , sabtu (14/11)

"Kejahatan ini dirancang dan dikendalikan dari luar negeri," imbuh Hollande. Presiden Prancis mengatakan akan melawan organisasi manapun yang berani menyerang Tanah Air mereka.

Prancis terlibat operasi militer Koalisi Barat menggempur markas militan di Suriah sejak akhir September lalu. Jet-jet tempur Negeri Anggur menyasar gudang logistik ISIS di wilayah utara.
ISIS memang tengah hangat dibicarakan. Namun, banyak pertanyaan bermunculan, siapakah sebenarnya ISIS? Apa yang mereka inginkan?

Banyak spekulasi mengatakan ISIS buatan Amerika Serikat. Seperti yang ditulis dalam situs globalresearch.ca yang mengatakan kelompok teror ini buatan Negeri Paman Sam.

Disebutkan ISIS dirancang sebagai instrumen teror untuk menaklukkan negara-negara kaya minyak Timur Tengah. Selain itu, ISIS juga disebut-sebut diciptakan untuk melawan pengaruh Iran yang tumbuh di wilayah dataran pasir tersebut.

Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat dinyatakan yang pertama kali bersekutu dengan ekstremis Islam selama era Perang Dingin AS dan Uni Soviet. AS melihat kala itu dunia bisa mereka kuasai dengan menaklukkan Uni Soviet dan menjadikan mereka alat.

"AS telah lama menggunakan terorisme dalam politiknya. Pada 1970-an, CIA menggunakan Ikhwanul Muslimin di Mesir sebagai penghalang, baik untuk menggagalkan ekspansi Soviet dan mencegah penyebaran ideologi Marxis. 

Bahkan Amerika juga secara terbuka mendukung Sarekat Islam menjatuhkan Bung Karno di Indonesia. Mereka juga mendukung kelompok teror di Pakistan, serta mereka juga yang menciptakan Al Qaidah.


Dalam situs ini dituliskan AS menggunakan ISIS dalam tiga cara. :

1. untuk menyerang musuh di Timur Tengah. 
2.  untuk melayani sebagai dalih intervensi AS di luar negeri.
3.  digunakan untuk mengancam Tanah Air mereka sendiri, yaitu membenarkan ekspansi yang belum pernah terjadi di wilayah Suriah.

ISIS ditugaskan untuk menjaga Suriah, dan menahan pengaruh Iran masuk ke negara itu. Bagi mereka, terorisme merupakan alasan untuk membenarkan pengawasan massa dan sebagai persiapan untuk pemberontakan di masa mendatang.

Beberapa bukti yang mengarah pada kebenaran Negeri Adi Daya ada dibalik ISIS yaitu dengan adanya tulisan US di tenda kemah militan kelompok teror tersebut. Dalam video latihan para jihadis yang dibuat CNN, terlihat jelas ada tulisan 'US' di tenda kemah tersebut.

Bukti ini semakin mengarah pada adanya AS dibalik ISIS. Mungkin AS menyokong para militan ini sehingga mereka tidak takut berbuat teror.

Calon Presiden Amerika Serikat Hillary Clinton juga sempat mengakui ISIS merupakan buatan negara yang dia harapkan dipimpinnya. Pengakuan Hillary disampaikan Pemimpin Tertinggi Iram Ayatollah Ali Khamenei , dalam situsnya.

Beberapa orang Amerika telah mengaku dalam memoarnya sendiri (termasuk memoar Hillary Clinton) bahwa mereka telah memainkan peran dalam menciptakan, mengembangkan dan membangun Daesh dan hari ini juga, mereka mendukungnya, kata Khamenei dalam situs resminya. Daesh adalah istilah Arab untuk menyebut kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Rumor pengakuan Hillary Clinton soal ISIS itu menyebar di sejumlah media negara-negara Arab. Dikatakan pengakuan Hillary itu dikutip dari isi buku memoar Hillary "Hard Choices".

Dalam kutipan yang sebenarnya sama sekali tidak terdapat dalam buku memoar itu, disebutkan Amerika menciptakan ISIS sebagai respon atas pergantian kepemimpinan di Mesir yang diambil alih militer ketika mengkudeta Presiden dari kelompok Ikhwanul Muslimin, Muhammad Mursi , pada 2013.

Meski begitu banyak juga orang yang tidak percaya Hillary benar-benar mengatakan demikian dalam bukunya. 

Ada dugaan munculnya memoar Hillary dalam kutipan pidato Khamenei di situs itu karena dimasukkan oleh seorang editor situs itu.


Kelompok ini berjanji akan mengerahkan seluruh kekuatan melawan ISIS.





















Kelompok hacker terkenal, Anonymous, mendeklarasikan perang terhadap kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Deklarasi ini disampaikan Anonymous usai terjadi serangan di Paris, Prancis.

Melalui postingan di Youtube, kelompok ini mengatakan akan mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk menyatukan seluruh kekuatan hingga ISIS menyerah.

Seorang pria bertopeng khas anonymous berbicara melalui rekaman video yang beredar sejak Minggu, 15 November 2015. Pria tersebut berbicara menggunakan bahasa Prancis. Ia mengecam, juga mengancam ISIS.

“Anonymous dari seluruh dunia akan memburu anda,” katanya seperti dikutip dari Mirror, Senin, 16 November 2015.

“Kami akan meluncurkan operasi terbesar yang pernah kami lakukan, untuk melawan anda. Kami akan melakukan serangan cyber besar-besaran. Perang sudah dideklarasikan. Bersiaplah,” lanjutnya.

“Orang-orang Prancis lebih kuat dari anda dan mereka akan keluar dari kekejaman ini, bahkan lebih kuat,” katanya menegaskan.

Postingan kelompok Anonymous ini bukanlah kali pertama. Sebelumnya, kelompok ini pun pernah menyerukan ancaman terhadap ISIS. Waktu itu, ancaman disampaikan setelah terjadi serangan di kantor majalah Charlie Hebdo di Prancis pada bulan Januari lalu.

Kelompok ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan yang teradi di Paris, Prancis pada Jumat malam, 13 November 2015, sekira pukul 21.00 waktu setempat.
Otoritas Prancis menyatakan dalam aksi serangan itu, sebanyak delapan pelaku diketahui beraksi menembak dan melakukan serangan bom bunuh diri. Akibat serangan tersebut, 129 orang tewas dan lebih dari 400 orang kini dirawat di rumah sakit, 42 diantaranya berada dalam kondisi kritis.

Jet Perancis Gempur ISIS di Suriah





















 Paska serangan ledakan bom bunuh diri dan tembakan di enam titik di Paris, Prancis Jumat lalu, Prancis untuk pertama kali menggencarkan serangan bom menggunakan jet tempur mereka ke wilayah kekuasaan kelompok ISIS di Suriah, Raqqa.

Di mana serangan itu, merupakan jawaban atas pengakuan kelompok militan ISIS yang mengaku sebagai penanggung jawab atas serangan yang menewaskan 129 orang dan lebih dari 300 orang luka-luka.

Kementerian Pertahanan Prancis mengungkapkan, serangan udara kemarin, Minggu, 15 November 2015, sebanyak 12 pesawat tempur, termasuk 10 adalah pesawat pembom yang menjatuhkan 20 bom.

“Target pertama adalah pos komando yang digunakan oleh ISIS, pusat perekrutan dan senjata serta amunisi depot. Kedua adalah kamp pelatihan teroris,” tulis pernyataan dari Kementerian Pertahanan, seperti dikutip Aljazeera, Senin, 16 November 2015.

Sementara itu, aktivis anti ISIS dalam cuitan di twitternya mengatakan, bahwa serangan udara yang digencarkan Prancis juga memukul stadion, museum, klinik, rumah sakit, peternakan ayam dan bangunan pemerintah setempat.

Kelompok itu juga menyatakan, air dan listrik pun mati akibat serangan itu. Namun, mereka mengaku setidaknya 30 serangan udara jatuh di Raqqa. Namun, menurut Aljazeera, tak ada korban yang jatuh akibat ledakan tersebut.

Enam titik di Paris dan Prancis, Jumat malam, sekitar pukul 21.00 waktu setempat diguncang oleh serangan tembakan dan ledakan bunuh diri. Enam titik itu adalah di Gedung konser Bataclan, Restoran Le Pitet Cambodge, Bar Le Carillon, Bar La Belle Equipe, dan area sekitar Stadium Utama Stade de France.

Bocoran Target Negara Incaran ISIS Usai Tragedi Paris






















Tragedi Paris tak dipungkiri kembali mengangkat pamor kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Maklum, ISIS dituding sebagai otak di balik serangan berdarah di ibu kota Prancis tersebut. 

Namun, rupanya ISIS tak hanya menargetkan Prancis. Menurut Menteri Luar Negeri Irak, Ebrahim al-Jafari, kelompok militan ISIS juga menargetkan beberapa negara yang dianggap musuh sebagai sasaran terornya.

"Informasi yang berhasil dikantongi sumber-sumber intelijen Irak sebelum serangan Paris beberapa negara juga menjadi target dan kebanyakan negara Eropa termasuk Prancis. Begitu juga dengan Amerika Serikat dan Iran," kata Ebrahim seperti dilansir Radio Zamaneh.

Negara-negara tersebut menjadi target ISIS karena dianggap telah punya andil besar terhadap serangan besar-besaran di beberapa kantong kekuatan ISIS. 

Tragedi Paris terjadi pada Jumat malam, 13 November 2015, di mana pelaku telah melancarkan aksinya di enam lokasi berbeda di Paris. Korban meninggal mencapai lebih dari 120 orang dan ratusan orang luka-luka.